Tanah Merah Padusi

IMG_3493
”Semak belukar memerah, lalu musnah.” Begitu ucap Laksmi Notokusumo di antara sorot sinar lampu kemerahan yang mewarnai Hutan Kota Sangga Buana, Kali Pesanggrahan, Jakarta. Ia bersimpuh di antara empat pemusik yang tergeletak tanpa lupa meniup serunai, dijeridu (didgeridoo, alat musik tradisional Suku Aborigin), pupuik, dan saluang. Ia merintih menyesali rimbun kampung halamannya yang kini musnah rata dengan tanah.
Sepenggal adegan monolog itu jadi bagian dari pertunjukan berjudul “Tanah Merah”. Karya tersebut merupakan bagian dari presentasi besar berjudul Phase karya koreografer Jefri Andi Usman, yang dibawakan pada Sabtu, 23 April lalu di Hutan Kota Sangga Buana Kali Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Continue reading

Advertisements

SIMULAKRA : Realita Maya dalam Dunia Kontemporer

SIMULAKRA

Cuplikan pementasan tari SIMULAKRA di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, sekitar 2015. (Diambil dari : youtube.com)

Konon, dewasa ini kita dihadapi dalam situasi absurd. Ruang dan waktu telah berpisah. Majunya peradaban membuat ruang dan waktu dinisbikan. Yang muncul kini adalah ruang yang tanpa batas. Teknologi kian menghadirkan ‘manusia-manusia hantu’, yang hadir tapi sesungguhnya absen. Seperti kejadian seorang perempuan berbaju merah (Mila Rosinta) di Jakarta yang berusaha memeluk sang kekasih (I Wayan Adi Gunarta) di Denpasar, Bali.

Pelan-pelan ia mendekat, dicobanya diraih tangan lelaki pujaan yang mengenakan udeng Bali itu. Kedua telapak tangan itu tampak saling bersentuhan. Tapi apa lacur, ketika ia mencoba untuk memeluk sang kekasih, nyatanya yang dipeluk hanyalah kenyataan akan sebuah ketiadaan. Continue reading