Instalasi Renik dalam Dunia Terhah

Standard
terhah

Karya “Lartucira” garapan Syaiful Garibaldi dalam pameran tunggalnya, QUIESCENT di ROH Gallery, Jakarta, sekitar 2016. (Diambil dari : syaifulgaribaldi.com)

Perkenalkan, ini adalah Dunia Terhah. Sebuah dunia baru yang ada di Planet Bumi. Dunia imajiner tanpa batas yang hadir dengan liar dan tumbuh tak terduga. Dunia yang asyik sendiri dengan eksperimen-eksperimennya yang absurd. Dunia ini bahkan terkadang kasat mata, tapi sebenarnya eksis. Tapi ini bukan khayalan. Ini adalah yang nyata.

“Cgarmnuh homma nossolka aarm tos homma ujmiok bas nosneroah klimuh tos homma porculen,nossolre olarium terhah, atoah tos xem osmun (birbir epoksorban) solka. Porculen sorban uwew katoa manoaki, lowara hiu jiro laeoleou piang gorgor she. Yepii.”

— Seseorang yang Bukan Alien

Jangan takut, paragraf di atas bukan lontaran yang keluar dari mulut alien yang akan menginvasi bumi. Itu adalah lontaran yang keluar dari mulut manusia – dengan menggunakan bahasa Terhah – yang tidak takut untuk meyakinkan apa yang telah dipercayainya dan mencoba merekam penuh semua ide yang ada di sana, di dalam setiap kehidupan. Continue reading

SIMULAKRA : Realita Maya dalam Dunia Kontemporer

Standard
SIMULAKRA

Cuplikan pementasan tari SIMULAKRA di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, sekitar 2015. (Diambil dari : youtube.com)

Konon, dewasa ini kita dihadapi dalam situasi absurd. Ruang dan waktu telah berpisah. Majunya peradaban membuat ruang dan waktu dinisbikan. Yang muncul kini adalah ruang yang tanpa batas. Teknologi kian menghadirkan ‘manusia-manusia hantu’, yang hadir tapi sesungguhnya absen. Seperti kejadian seorang perempuan berbaju merah (Mila Rosinta) di Jakarta yang berusaha memeluk sang kekasih (I Wayan Adi Gunarta) di Denpasar, Bali.

Pelan-pelan ia mendekat, dicobanya diraih tangan lelaki pujaan yang mengenakan udeng Bali itu. Kedua telapak tangan itu tampak saling bersentuhan. Tapi apa lacur, ketika ia mencoba untuk memeluk sang kekasih, nyatanya yang dipeluk hanyalah kenyataan akan sebuah ketiadaan. Continue reading