Mengenang Sitor Lewat Pasar Senen

Standard

SITOR

Ke mana kawan semua/ Supir, tukang delman/ Teman berdampingan/ Kita semua bersenda/ Menampung senyuman/ Si Kebaya Merah/ Dari kepulan asap merekah/ Hai Tukang Becak/ Bilang padaku/ Dewiku/ Ke mana kau bawa 

(Dari puisi Pasar Senen, Sitor Situmorang)

Malam itu, kursi-kursi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki penuh terisi. Ruangan sedikit sesak. Dari pintu masuk saja, orang-orang sudah berdiri, beradaptasi dan ‘bertahan hidup’ dengan mengisi area-area pinggir ruang yang tidak berkursi. Riuh rendah. Lalu, di atas panggung, muncul tiga orang dengan masing-masing menenteng sebuah kursi lipat. ”Awas copet! …Kopi! Kopi! Kopi! …Mesin tik bekas! …Mari, Mas, monggo… kehangatan,” kata satu dari tiga orang itu setengah berteriak. Continue reading

Merespon Ruang – Doing Graffiti is Like Vacation!

Standard

street dealin

Banksy, seorang bomber asal Inggris, yang tak pernah diketahui identitasnya, pernah membayangkan bagaimana sebuah kota dimana graffiti tidak ilegal, dimana semua orang bisa menggambar apapun yang mereka sukai, dimana setiap jalan dalam sebuah kota dibanjiri oleh jutaan warna dan frase, dimana berdiri di halte bus tidak terasa membosankan.

Imagine a city like that – it’s wet

– Banksy, Wall and Piece (2005).

Imajinasi Banksy itu rupanya terwujud pada Sabtu (19/12) silam di kawasan Gudang Sarinah, Pancoran, Jakarta Selatan. Membuat ‘basah’ para pelaku sekaligus pecinta seni jalanan atau yang biasa dikenal dengan street art. Pasalnya, hari itu dinding-dinding bangunan Gudang Sarinah yang sebelumnya tampak kusam dengan cat yang terkelupas sana sini disulap menjadi hampir habis terpakai untuk menjamu berbagai rupa karya street art. Continue reading