Tanah Merah Padusi

IMG_3493
”Semak belukar memerah, lalu musnah.” Begitu ucap Laksmi Notokusumo di antara sorot sinar lampu kemerahan yang mewarnai Hutan Kota Sangga Buana, Kali Pesanggrahan, Jakarta. Ia bersimpuh di antara empat pemusik yang tergeletak tanpa lupa meniup serunai, dijeridu (didgeridoo, alat musik tradisional Suku Aborigin), pupuik, dan saluang. Ia merintih menyesali rimbun kampung halamannya yang kini musnah rata dengan tanah.
Sepenggal adegan monolog itu jadi bagian dari pertunjukan berjudul “Tanah Merah”. Karya tersebut merupakan bagian dari presentasi besar berjudul¬†Phase¬†karya koreografer Jefri Andi Usman, yang dibawakan pada Sabtu, 23 April lalu di Hutan Kota Sangga Buana Kali Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Continue reading

Advertisements