Jakarta dari Bangku Kopaja

2018-07-29-02-25-30-2.jpg

“Kita ke sana naik apa?” tanya saya. Si kawan–sebut saja Pigi–menjawab singkat, “Kopaja aja.” Saya jelas mengangguk. Maklum, satu tahun tak bersua dengan kopaja, rindu juga rasanya.

Kami melanjutkan perjalanan, berjalan sekitar 100 meter menuju jembatan penyeberangan orang Duren Tiga. Kami menaiki dan menuruni tangga jembatan. Sesampainya di seberang jalan, Kopaja 57–yang seharusnya kami naiki–melintas secepat kilat di jalur yang tak semestinya. Bus putih-hijau itu melintas di jalur busway. Jelas kami tak bisa menyetopnya. “Kenapa, sih, mereka (kopaja) seneng banget ngelewatin jalur busway!” Begitu Pigi menggerutu kesal. Itu pemandangan lumrah di Jakarta, kota dengan seribu kemungkinan. Bus serupa kopaja saja sangat mungkin melintas di jalur busway, menepis harapan para pengguna bus (yang katanya) anti-macet dan ber-AC itu untuk tiba cepat di tujuan.

Kami kesal, tapi juga pasrah. Sudahlah, tunggu saja kopaja berikutnya yang lewat. Continue reading →

Advertisements

UN(TALK) : Mencari Kekasih

untalk

Halo! Bisa aku bicara dengan Siapa?

Aku mau bertanya kepada Siapa, kekasihku dimana?

Sebentar saja aku ingin berbicara dengan Siapa.

Halo.. Halo.. Tolong cepat panggilkan Siapa. Jangan diam terus. Koinku sudah mau habis.

Tolonglah.. Aku hanya ingin Siapa mengatakan padaku dimana kekasihku saat ini.

Ayolah, koinku sudah mau habis.

Siapa kekasihku dimana?

Ode untuk Kata

images (2)

Dia itu gadis binal. Ia cerdik untuk berintrik. Tatapan matanya terlalu tajam untuk dipandang dalam-dalam. Seringkali ia mengedipkan matanya, isyarat sebuah ajakan bermain.

Kamu tahu? Pelan-pelan ia sudah mengincarmu sejak vagina Ibumu belum mau mengeluarkanmu. Lantas, setelah kamu keluar dari dalam tubuh Ibumu, ia akan memaksamu untuk memahaminya. Katanya, ia adalah barang terpenting dalam hidupmu. Lalu dengan terbata-bata kamu pun perlahan memahaminya.

Ia akan terus tumbuh di dalam tubuhmu. Menjadi seorang gadis binal dengan peluru-peluru yang ia kumpulkan semasa hidupmu. Ia akan menjadi kekasihmu. Tanpanya, kamu kaku.

Berhati-hatilah dengannya. Ia adalah virus yang suatu waktu bisa saja membekukan darahmu. Membuatmu kejang-kejang. Membuatmu sesak nafas. Membuatmu rabun. Membuatmu kencing darah. Membuatmu disleksia.

Karea ia akan senantiasa membiarkan dirinya keluar dari mulutmu kapanpun kamu mau. Ketika kamu marah. Ketika kamu bersedih. Ketika kamu mabuk.

Dan terkadang, ia akan memintamu bertanggungjawab karena telah mengeluarkannya dari mulutmu. Ia adalah kekasih terbaik yang senantiasa menuntut.

Kata, kamu adalah cintaku. Tapi juga sekaligus musuhku.

Damn you, words!