Tujuh Bulan Merindu Jakarta

jakarta

Jakarta dari ketinggian. @ROH Gallery, Lantai 40 Equity Tower, SCBD, Jakarta.

Awiligar, Bandung, 3 September 2017

Mengulang cerita satu masa di Jakarta… Karena rindu.

***

Rawajati, Jakarta, 6 Maret 2015

Matahari mungkin sedang marah. Tak karu-karuan ia pancarkan sinar yang menyengat. Belum lagi keringat yang mengucur lantaran suhu udara berada di atas 33 derajat. Lama-lama lelah juga berkali-kali harus bulak balik mengelap leher yang basah. Ditambah macet dan beberapa ruas jalan yang ditutup – yang membuat kami harus melalui jalan yang lebih jauh. Aku, perempuan di sebelahku, lelaki di depanku, dan perempuan juga laki-laki yang duduk tidak manis di bus itu mungkin mendumel dalam hati. “Ah, Jakarta”. Continue reading

Advertisements

Instalasi Renik dalam Dunia Terhah

terhah

Karya “Lartucira” garapan Syaiful Garibaldi dalam pameran tunggalnya, QUIESCENT di ROH Gallery, Jakarta, sekitar 2016. (Diambil dari : syaifulgaribaldi.com)

Perkenalkan, ini adalah Dunia Terhah. Sebuah dunia baru yang ada di Planet Bumi. Dunia imajiner tanpa batas yang hadir dengan liar dan tumbuh tak terduga. Dunia yang asyik sendiri dengan eksperimen-eksperimennya yang absurd. Dunia ini bahkan terkadang kasat mata, tapi sebenarnya eksis. Tapi ini bukan khayalan. Ini adalah yang nyata.

“Cgarmnuh homma nossolka aarm tos homma ujmiok bas nosneroah klimuh tos homma porculen,nossolre olarium terhah, atoah tos xem osmun (birbir epoksorban) solka. Porculen sorban uwew katoa manoaki, lowara hiu jiro laeoleou piang gorgor she. Yepii.”

— Seseorang yang Bukan Alien

Jangan takut, paragraf di atas bukan lontaran yang keluar dari mulut alien yang akan menginvasi bumi. Itu adalah lontaran yang keluar dari mulut manusia – dengan menggunakan bahasa Terhah – yang tidak takut untuk meyakinkan apa yang telah dipercayainya dan mencoba merekam penuh semua ide yang ada di sana, di dalam setiap kehidupan. Continue reading

Dari Fahri, Kita Perlu Tahu tentang Penyakit Si Tulang Rapuh

osteogenesis

Potret X-Ray penderita Osteogenesis Imperfecta atau penyakit tulang rapuh. (Diambil dari : physio-pedia.com)

Jika saja kabar tentang Muhammad Fahri Asidiq tidak ramai diberitakan, mungkin saja kita tak pernah tahu tentang penyakit yang disebut sebagai kelainan tulang rapuh. Tak ubahnya kaca, tulang penderitanya tak pernah lepas dari kata patah.

Dengan baju koko dan celana hitamnya, bocah kecil itu berbaring di samping Ibunya. Pandangan matanya kosong. Ia lebih banyak diam. Mungkin ia bingung karena mendadak banyak orang di sekitarnya. Bermata iba dengan turut mengucap keprihatinan.

Kaki kirinya tipis setipis lempeng. Matanya bulat, percis mata sang Ibu, Sri Astati Nursani (32). Badannya yang kecil tak mengisyaratkan usianya yang tengah menginjak sebelas tahun. Bagaimana tidak? Sejak usianya baru menginjak lima tahun, bocah yang akrab disapa Fahri ini kerap mengalami patah tulang. Kini, enam tahun sudah berjalan, bahkan kondisi ini sampai membuatnya tak bisa berdiri. Continue reading

Mereka yang Berteriak Berikan Kami Akses Mudah

saparua

Suasana konser musik di GOR Saparua, Bandung, dekade 1990-an. (Diambil dari dcdc.com)

Semburat cengiran kecil keluar dari wajah Yala ketika ia mengingat momen di kala 18 tahun silam. Saat itu, Yala yang masih duduk di bangku SMA, bersama grup musiknya, Authority, untuk pertama kalinya mendapat tepuk riuh penonton yang memenuhi GOR Saparua, Bandung. “Aslinya! Gua cengo waktu itu. Bangga atuh dengar nama band sendiri diteriakin orang banyak,” kenangnya.

Berdiri di tahun 1994, mendapatkan teriakan riuh pertama di tahun 1999. Perjalanan lima tahun Authority – salah satu dari sederet nama grup musik yang meriah di era 1990an – setidaknya berbuah hasil. “Soalnya waktu itu acara musik di Bandung rutin, konsisten, bikinnya enggak terlalu susah,” ujar Yala Roesli ketika ditemui di Rumah Musik Harry Roesli (RMHR), Bandung, beberapa waktu lalu. Kala itu, grup musik pemula punya wadah untuk berekspresi dan pelan-pelan memperkenalkan dirinya pada masyarakat. Unsur kolektivitas dan militansi para pelaku menjadi ciri kejayaan geliat musik Bandung di era itu. GOR Saparua kerap disebut-sebut sebagai saksi bisunya. Continue reading

Hibernasi Skena Musik Bandung, Iraha Hudangna Bray?

otong_koil

Otong, frontman salah satu grup musik asal Bandung, KOIL. (Dok. Arfian Jamul)

Konon, Bandung itu barometer industri musik tanah air. Anggapan itu rasanya sudah jadi rahasia umum di telinga masyarakat. Bandung boleh dibilang sebagai rahim bagi banyak musisi kaliber nasional.

Kelahiran nama-nama besar dari kota kembang terus bergulir dari tahun ke tahun. Bandung seolah-olah menjadi penyedia musisi dari berbagai aliran. Iya, di kota ini semua warna pernah tumbuh subur dan berkembang. Namun, belakangan regenerasi itu rupanya kian padam. Continue reading

Dari Jasad hingga Gopalisme, Tren Fesyen Sundah yang Hanya Separuh

pangsi 1

Peserta “Bandung Lautan Pangsi” di Balai Kota Bandung. (Dok. Uwie Prabu)

Ada suasana yang tak biasa di sudut-sudut Kota Bandung. Suasana tak biasa itu menggeliat selama sekitar satu dekade lamanya. Bejubel anak muda kerap yang berpakaian serba hitam bertuliskan aksara Sunda kuno atau berpakaian adat serupa pangsi Sunda, lengkap dengan kain iket yang tergulung rapi di kepala.

Mereka ada dimana-mana. Di trotoar-trotoar jalan hingga berkerumun dalam gelaran musik cadas yang biasa digelar komunitas-komunitas underground Bandung. Gara-garanya adalah Mohammad Rohman atau yang tersohor dengan nama Man Jasad. Dedengkot grup musik JASAD ini lah yang menularkan virus ke-Sunda-an pada sejumlah anak muda Bandung kala itu. Baik melalui musiknya yang dikolaborasikan bersama dengan alat-alat musik Sunda berupa karinding, juga dengan fesyen panggungnya menampilkan ponggawa band death metal dengan baju pangsi juga iket Sunda.

Tren fesyen Sunda itu memang tengah mewabah di Kota Bandung. Berlangsung sekira sejak tahun 2006 silam. Dimana kala itu, kehidupan Sunda sedang mulai merangkak mencari eksistensinya di Kota Bandung. Continue reading

Pangsi Sebagai Simbol Sunda yang Dikenal Setengah-setengah

pangsi

Masyarakat berbondong-bondong mendatangi Balai Kota Bandung dengan pakaian pangsinya. (Dokumentasi : Uwie Prabu)

Pelataran Balai Kota Bandung mendadak berwarna hitam pada Sabtu, 15 April 2016 kemarin sore. Tapi itu bukan petanda berkabung. Melainkan gara-gara segerombolan orang dari berbagai daerah di Jawa Barat yang menyerbu Balai Kota Bandung dengan pakaian pangsi Sunda serba hitamnya.

Mereka tidak datang tanpa maksud, asal saja datang ke Balai Kota Bandung dengan menggunakan pangsi. Tapi mereka bersama-sama menggelorakan semangat urang Sunda dalam helatan Bandung Lautan Pangsi. Sebuah gelaran yang digagas oleh Forum Jaga Lembur – forum tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai elemen – dengan maksud turut serta ngamumule budaya warisan leluhur tatar Sunda. Continue reading