Mengenang Sitor Lewat Pasar Senen

SITOR

Ke mana kawan semua/ Supir, tukang delman/ Teman berdampingan/ Kita semua bersenda/ Menampung senyuman/ Si Kebaya Merah/ Dari kepulan asap merekah/ Hai Tukang Becak/ Bilang padaku/ Dewiku/ Ke mana kau bawa 

(Dari puisi Pasar Senen, Sitor Situmorang)

Malam itu, kursi-kursi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki penuh terisi. Ruangan sedikit sesak. Dari pintu masuk saja, orang-orang sudah berdiri, beradaptasi dan ‘bertahan hidup’ dengan mengisi area-area pinggir ruang yang tidak berkursi. Riuh rendah. Lalu, di atas panggung, muncul tiga orang dengan masing-masing menenteng sebuah kursi lipat. ”Awas copet! …Kopi! Kopi! Kopi! …Mesin tik bekas! …Mari, Mas, monggo… kehangatan,” kata satu dari tiga orang itu setengah berteriak. Continue reading

Advertisements

Tanah Merah Padusi

IMG_3493
”Semak belukar memerah, lalu musnah.” Begitu ucap Laksmi Notokusumo di antara sorot sinar lampu kemerahan yang mewarnai Hutan Kota Sangga Buana, Kali Pesanggrahan, Jakarta. Ia bersimpuh di antara empat pemusik yang tergeletak tanpa lupa meniup serunai, dijeridu (didgeridoo, alat musik tradisional Suku Aborigin), pupuik, dan saluang. Ia merintih menyesali rimbun kampung halamannya yang kini musnah rata dengan tanah.
Sepenggal adegan monolog itu jadi bagian dari pertunjukan berjudul “Tanah Merah”. Karya tersebut merupakan bagian dari presentasi besar berjudul Phase karya koreografer Jefri Andi Usman, yang dibawakan pada Sabtu, 23 April lalu di Hutan Kota Sangga Buana Kali Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Continue reading

Instalasi Renik dalam Dunia Terhah

terhah

Karya “Lartucira” garapan Syaiful Garibaldi dalam pameran tunggalnya, QUIESCENT di ROH Gallery, Jakarta, sekitar 2016. (Diambil dari : syaifulgaribaldi.com)

Perkenalkan, ini adalah Dunia Terhah. Sebuah dunia baru yang ada di Planet Bumi. Dunia imajiner tanpa batas yang hadir dengan liar dan tumbuh tak terduga. Dunia yang asyik sendiri dengan eksperimen-eksperimennya yang absurd. Dunia ini bahkan terkadang kasat mata, tapi sebenarnya eksis. Tapi ini bukan khayalan. Ini adalah yang nyata.

“Cgarmnuh homma nossolka aarm tos homma ujmiok bas nosneroah klimuh tos homma porculen,nossolre olarium terhah, atoah tos xem osmun (birbir epoksorban) solka. Porculen sorban uwew katoa manoaki, lowara hiu jiro laeoleou piang gorgor she. Yepii.”

— Seseorang yang Bukan Alien

Jangan takut, paragraf di atas bukan lontaran yang keluar dari mulut alien yang akan menginvasi bumi. Itu adalah lontaran yang keluar dari mulut manusia – dengan menggunakan bahasa Terhah – yang tidak takut untuk meyakinkan apa yang telah dipercayainya dan mencoba merekam penuh semua ide yang ada di sana, di dalam setiap kehidupan. Continue reading

SIMULAKRA : Realita Maya dalam Dunia Kontemporer

SIMULAKRA

Cuplikan pementasan tari SIMULAKRA di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, sekitar 2015. (Diambil dari : youtube.com)

Konon, dewasa ini kita dihadapi dalam situasi absurd. Ruang dan waktu telah berpisah. Majunya peradaban membuat ruang dan waktu dinisbikan. Yang muncul kini adalah ruang yang tanpa batas. Teknologi kian menghadirkan ‘manusia-manusia hantu’, yang hadir tapi sesungguhnya absen. Seperti kejadian seorang perempuan berbaju merah (Mila Rosinta) di Jakarta yang berusaha memeluk sang kekasih (I Wayan Adi Gunarta) di Denpasar, Bali.

Pelan-pelan ia mendekat, dicobanya diraih tangan lelaki pujaan yang mengenakan udeng Bali itu. Kedua telapak tangan itu tampak saling bersentuhan. Tapi apa lacur, ketika ia mencoba untuk memeluk sang kekasih, nyatanya yang dipeluk hanyalah kenyataan akan sebuah ketiadaan. Continue reading

Dari Fahri, Kita Perlu Tahu tentang Penyakit Si Tulang Rapuh

osteogenesis

Potret X-Ray penderita Osteogenesis Imperfecta atau penyakit tulang rapuh. (Diambil dari : physio-pedia.com)

Jika saja kabar tentang Muhammad Fahri Asidiq tidak ramai diberitakan, mungkin saja kita tak pernah tahu tentang penyakit yang disebut sebagai kelainan tulang rapuh. Tak ubahnya kaca, tulang penderitanya tak pernah lepas dari kata patah.

Dengan baju koko dan celana hitamnya, bocah kecil itu berbaring di samping Ibunya. Pandangan matanya kosong. Ia lebih banyak diam. Mungkin ia bingung karena mendadak banyak orang di sekitarnya. Bermata iba dengan turut mengucap keprihatinan.

Kaki kirinya tipis setipis lempeng. Matanya bulat, percis mata sang Ibu, Sri Astati Nursani (32). Badannya yang kecil tak mengisyaratkan usianya yang tengah menginjak sebelas tahun. Bagaimana tidak? Sejak usianya baru menginjak lima tahun, bocah yang akrab disapa Fahri ini kerap mengalami patah tulang. Kini, enam tahun sudah berjalan, bahkan kondisi ini sampai membuatnya tak bisa berdiri. Continue reading

Mereka yang Berteriak Berikan Kami Akses Mudah

saparua

Suasana konser musik di GOR Saparua, Bandung, dekade 1990-an. (Diambil dari dcdc.com)

Semburat cengiran kecil keluar dari wajah Yala ketika ia mengingat momen di kala 18 tahun silam. Saat itu, Yala yang masih duduk di bangku SMA, bersama grup musiknya, Authority, untuk pertama kalinya mendapat tepuk riuh penonton yang memenuhi GOR Saparua, Bandung. “Aslinya! Gua cengo waktu itu. Bangga atuh dengar nama band sendiri diteriakin orang banyak,” kenangnya.

Berdiri di tahun 1994, mendapatkan teriakan riuh pertama di tahun 1999. Perjalanan lima tahun Authority – salah satu dari sederet nama grup musik yang meriah di era 1990an – setidaknya berbuah hasil. “Soalnya waktu itu acara musik di Bandung rutin, konsisten, bikinnya enggak terlalu susah,” ujar Yala Roesli ketika ditemui di Rumah Musik Harry Roesli (RMHR), Bandung, beberapa waktu lalu. Kala itu, grup musik pemula punya wadah untuk berekspresi dan pelan-pelan memperkenalkan dirinya pada masyarakat. Unsur kolektivitas dan militansi para pelaku menjadi ciri kejayaan geliat musik Bandung di era itu. GOR Saparua kerap disebut-sebut sebagai saksi bisunya. Continue reading

Hibernasi Skena Musik Bandung, Iraha Hudangna Bray?

otong_koil

Otong, frontman salah satu grup musik asal Bandung, KOIL. (Dok. Arfian Jamul)

Konon, Bandung itu barometer industri musik tanah air. Anggapan itu rasanya sudah jadi rahasia umum di telinga masyarakat. Bandung boleh dibilang sebagai rahim bagi banyak musisi kaliber nasional.

Kelahiran nama-nama besar dari kota kembang terus bergulir dari tahun ke tahun. Bandung seolah-olah menjadi penyedia musisi dari berbagai aliran. Iya, di kota ini semua warna pernah tumbuh subur dan berkembang. Namun, belakangan regenerasi itu rupanya kian padam. Continue reading