‘Terpasung’ Bersama yang Dipasung

chain-690088_960_720

Ilustrasi rantai. (Pixabay)

Jika nasib boleh dipilih, adakah di antara kita yang memilih untuk menjadi seseorang dengan gangguan jiwa? Seburuk-buruknya jalan hidup, menikmati hari dengan ‘normal’ tentu tetap menjadi pilihan terbaik.

Jujur saja saya ngilu. Ini pengalaman pertama bagi saya untuk menemui orang dengan gangguan jiwa atau ODGJ yang terpaksa dipasung oleh keluarga. Tak terbersit apa pun di pikiran selain rasa tak tega melihat Jano (bukan nama sebenarnya), 37 tahun, yang dirantai selama 22 tahun lamanya. Continue reading →

Advertisements

Jakarta dari Bangku Kopaja

2018-07-29-02-25-30-2.jpg

“Kita ke sana naik apa?” tanya saya. Si kawan–sebut saja Pigi–menjawab singkat, “Kopaja aja.” Saya jelas mengangguk. Maklum, satu tahun tak bersua dengan kopaja, rindu juga rasanya.

Kami melanjutkan perjalanan, berjalan sekitar 100 meter menuju jembatan penyeberangan orang Duren Tiga. Kami menaiki dan menuruni tangga jembatan. Sesampainya di seberang jalan, Kopaja 57–yang seharusnya kami naiki–melintas secepat kilat di jalur yang tak semestinya. Bus putih-hijau itu melintas di jalur busway. Jelas kami tak bisa menyetopnya. “Kenapa, sih, mereka (kopaja) seneng banget ngelewatin jalur busway!” Begitu Pigi menggerutu kesal. Itu pemandangan lumrah di Jakarta, kota dengan seribu kemungkinan. Bus serupa kopaja saja sangat mungkin melintas di jalur busway, menepis harapan para pengguna bus (yang katanya) anti-macet dan ber-AC itu untuk tiba cepat di tujuan.

Kami kesal, tapi juga pasrah. Sudahlah, tunggu saja kopaja berikutnya yang lewat. Continue reading →

Tujuh Bulan Merindu Jakarta

jakarta

Jakarta dari ketinggian. @ROH Gallery, Lantai 40 Equity Tower, SCBD, Jakarta.

Awiligar, Bandung, 3 September 2017

Mengulang cerita satu masa di Jakarta… Karena rindu.

***

Rawajati, Jakarta, 6 Maret 2015

Matahari mungkin sedang marah. Tak karu-karuan ia pancarkan sinar yang menyengat. Belum lagi keringat yang mengucur lantaran suhu udara berada di atas 33 derajat. Lama-lama lelah juga berkali-kali harus bulak balik mengelap leher yang basah. Ditambah macet dan beberapa ruas jalan yang ditutup – yang membuat kami harus melalui jalan yang lebih jauh. Aku, perempuan di sebelahku, lelaki di depanku, dan perempuan juga laki-laki yang duduk tidak manis di bus itu mungkin mendumel dalam hati. “Ah, Jakarta”. Continue reading →

Tiga Hari (Tidak) Untuk Selamanya. Kapan Kembali ke Ambarawa?

photo0758

Matahari akan selalu terbit dari timur. Jika tidak, berakhirlah sudah dunia. Untungnya, letak Stasiun Poncol, Semarang tepat menghadap ke bagian timur. Alhasil, seturunnya kami dari kereta Tawang Jaya – kereta yang menculik kami dari Jakarta – semburat sinar kekuningan matahari menyapa. Membuat mata yang sebelumnya melayu mendadak mekar. Belum lagi, tembang “Gambang Semarang” yang sebelumnya bergema di dalam kereta setibanya di Stasiun Poncol.

Ah.. Awalan yang manis untuk mengawali kisah tiga hari road trip kecil mengelilingi kawasan USA (Ungaran, Salatiga dan Ambarawa) di medio 2016 lalu. Continue reading →