Tiga Hari (Tidak) Untuk Selamanya. Kapan Kembali ke Ambarawa?

photo0758

Matahari akan selalu terbit dari timur. Jika tidak, berakhirlah sudah dunia. Untungnya, letak Stasiun Poncol, Semarang tepat menghadap ke bagian timur. Alhasil, seturunnya kami dari kereta Tawang Jaya – kereta yang menculik kami dari Jakarta – semburat sinar kekuningan matahari menyapa. Membuat mata yang sebelumnya melayu mendadak mekar. Belum lagi, tembang “Gambang Semarang” yang sebelumnya bergema di dalam kereta setibanya di Stasiun Poncol.

Ah.. Awalan yang manis untuk mengawali kisah tiga hari road trip kecil mengelilingi kawasan USA (Ungaran, Salatiga dan Ambarawa) di medio 2016 lalu.

Berbekal sepeda motor yang disewa seharga Rp 100.000 untuk tiga hari (harga khusus bagi penyewa yang menggunakan KTM Universitas Diponegoro), kami langsung melancong meninggalkan Kota Semarang.

Buru-buru si kawan menyalakan mesin motor, lantas berangkatlah. Bukannya apa-apa, saya tak sabar mencapai Ambarawa. Pasalnya, obsesi untuk menginjakkan kaki di Ambarawa telah muncul sejak satu dekade silam. Awalnya sepele, hanya karena sebuah novel berjudul Menggugat Tuhan karya F Rahardi, seorang pria kelahiran Ambarawa yang mengalami krisis kepercayaan di tengah daerah yang mayoritas penduduknya adalah kaum Nasrani. Dan Ambarawa, adalah latar tempat berbagai pikiran Rahardi berkecamuk. Sakralnya Ambarawa yang digambarkan Rahardi menggiring saya untuk menjadikan kawasan ribuan gereja itu sebagai salah satu obsesi yang harus saya capai.

Ini kali pertama saya menyusuri kawasan-kawasan yang mengelilingi Semarang. Menggebu-gebu rasanya. Melewati lingkar Semarang yang menghubungkan Ibu Kota Jawa Tengah itu dengan Yogyakarta dan Solo, maka kamu harus berhati-hati. Terlalu banyak truk-truk berukuran besar kebut-kebutan melewati jalur tersebut. Ada baiknya untuk berjalan pelan saja.

Tapi tenang, jalan pelan bukan berarti membosankan. Sebab di sepanjang jalan kamu akan bertemu dengan kebun ilalang nan luas yang menyapamu dari kanan dan kiri. Pelan-pelanlah gerak roda motor yang kami tumpangi, membayangkan kemana dandelion-dandelion itu akan beterbangan kelak.

Tidak sampai satu jam, kami sampai di persimpangan Bawean. Artinya, sudah tinggal sedikit langkah lagi untuk mencapai Ambarawa.

Setibanya di Ambarawa, kami memilih untuk berkeliling terlebih dahulu. Cukup waktu 15 menit untuk mengitari Ambarawa. Awalnya saya pikir Ambarawa ini adalah sebuah daerah otonom. Nyatanya, Ambarawa hanyalah sebuah kecamatan yang berada di bawah wilayah administratif Kota Ungaran, Ibu Kota Kabupaten Semarang.

Jalur yang terbilang cukup padat. Sebenarnya, kepadatan di jalur utama Ambarawa ini lebih disebabkan oleh angkutan-angkutan dalam kota dan antar kota yang tak ubahnya kami temui di sekitar Lapangan Tegalega, Bandung. Semrawut.

Orang-orang lalu lalang. Mungkin ada yang mau berbelanja, mungkin ada yang mau melamar sang kekasih, mungkin ada yang baru putus cinta dan memilih berkeliling untuk melepas stres. Apapun itu, yang selalu hadir di setiap kota anyar yang saya lihat, membawa saya ke dalam ruang imaji yang sebelum terkunci.

Jika menyambangi sebuah daerah anyar, rasanya tak asyik kalau kita tak mengambil foto di depan monumen atau plang atau apapun yang menjadi ciri khas. Minimal agar bisa mengunggahnya di Instagram. Bermodalkan hasil riset melalui #exploreambarawa di Instagram, kami bertemu dengan sebuah plang bertuliskan “IAMBARAWA”. Dengan begitu, saya ngotot bilang sama si kawan : “Enggak mau tahu pokoknya harus dapat monumen itu!”.

Mungkin sudah lima kali kami berputar-putar di kawasan yang sama : jalur utama Ambarawa – Stasiun Ambarawa – Alun-alun Ambarawa – lingkar luar Ambarawa – kembali ke jalur utama Ambarawa, tak juga kami menemukan monumen itu. Ya wajar saja! Di hari terakhir perjalanan, kami baru tahu kalau rupanya monumen itu berada di dalam Stasiun Ambarawa. Lelah-lelah kami keliling berkali-kali, padahal sudah jelas tak akan ditemukan di pinggir jalan.

Tapi hey, ada yang menarik dari agenda putar-putar Ambarawa itu. Pertama, di depan mata kami nampak lanskap Gunung Merbabu yang dibawahnya petak-petak sawah hijau menyala di sepanjang Lingkar Luar Ambarawa. Yah, kalau mau dianalogikan, seperti pemandangan wallpapers Windows lah.

photo0573

Tak ayal, layaknya abege-abege sekitar yang doyan nongkrong di pinggir jembatan, kami pun berhenti sejenak hanya untuk berkata : “Wah hijau semua…”. Tak lupa kami juga mengabadikan gambar di sana. Harap maklum, kami turis domestik.

Di tengah-tengah menikmati lanskap Gunung Merbabu itu, di sebelah barat sana, muncul seonggok bangunan yang sudah reyot. Ia berdiri di tengah sawah. Adalah Penjara Willem atau biasa dikenal dengan Benteng Willem. Lantas kami coba-coba bermain logika, bagaimana caranya agar bisa sampai ke tengah sawah itu.

Jalan ditemukan, misi dilanjutkan. Gerbang Benteng Willem tepat berada di depan mata kami, tinggal beberapa langkah lagi untuk masuk. Tapi apa lacur, mendadak seorang ibu lewat dan memarahi kami : “Hey, Mas Mbak, jangan masuk!”. Kami bingung hingga akhirnya kami menemukan tepat di bagian atas gerbang terdapat papan bertuliskan larangan untuk memasuki kawasan tersebut yang dikeluarkan oleh PM (Polisi Militer). Karena kami terlalu ciut untuk bertemu PM dan terkena hukuman, alhasil kami pun membalik arah, kembali pada perjalanan yang entah akan kami bawa kemana.

img20170312152515

Diambil dari adeutomo.com — Tampak belakang gerbang yang kebetulan kami lewati.

Di jalan, kepala saya tak berhenti menduga-duga apa yang ada di dalam Benteng Willem itu. Dari luar, komplek bangunan itu tak ubahnya perkampungan-perkampungan di Amerika Selatan yang di dalamnya hidup para pengedar kokain. Gedung yang tampak mati, dinding yang sudah kopek dan penuh lumut. Tapi dari luar kami bisa melihat baju-baju dijemur sembarangan di depan pintu yang sudah reyot. Artinya, di dalam situ ada kehidupan.

Lima kali berkeliling rasanya bosan juga. Akhirnya si kawan mengajak saya ke Umbul Sidomukti yang terletak di kawasan Bandungan – sebuah kawasan wisata yang ngehits di kalangan anak muda Semarang. Ada dua rute menuju Umbul Sidomukti. Pertama, melalui Jalur Lingkar Semarang-Yogyakarta-Solo dan masuki jalan ke arah Gunung Ungaran. Kedua, melalui Ambarawa. Ikuti jalan menuju Goa Maria Kerep, lalu dari situ, ikuti saja plang penujuk arah berikutnya ke Bandungan.

Kawasan perbukitan ini dikelola oleh pihak swasta. Terletak di lereng Gunung Ungaran dengan ketinggian 1.200 mdpl. Hanya dengan mengeluarkan kocek Rp 1.000 per orang, kami langsung tancap gas menaiki perbukitan Umbul Sidomukti, yang bagi kami, tak ubahnya kawasan perbukitan Caringin Tilu, Bandung.

Terlalu banyak pilihan wisata dan bersantai di sana. Yang paling menggoda sebenarnya kolam renang pinggir tebing. Tapi karena kami enggak mau basah-basahan, akhirnya di antara berbagai pilihan wisata itu, kami cukup memilih Pondok Kopi Umbul Sidomukti. Kedai di atas ketinggian 1.200 mdpl itu jadi pilihan kami untuk berselonjor mengistirahatkan otot-otot yang kelelahan.

photo0589

Pondok Kopi Umbul Sidomukti, Ungaran.

Benar saja! Dengan semilir angin yang aduhai dan lanskap Kota Semarang beserta daerah-daerah di sekitarnya begitu memanjakan kami. Kalau beruntung, kamu bisa melihat aksi paralayang yang terbang dari hampir puncak Gunung Ungaran. Belum lagi harga menu makanan yang masih berkisar di angka Rp 10 ribuan. Agak jauh jika dibandingkan dengan ngopi lucu di Rumah Kopi, Bandung. Selembar kertas Rp 50 ribu saja mungkin hanya cukup untuk satu cangkir kopi.

Selesai melemaskan otot di Pondok Kopi Umbul Sidomukti, kami kembali memutar otak : kemana lagi kami akan pergi. Rencana awal adalah mencari penginapan, lantaran badan sudah terlalu lengket untuk digerakkan. Tapi sayang, tak ada penginapan yang menarik di Ambarawa. Hanya hotel syariah atau sekalian hotel “nganu” di kawasan Bandungan. Si kawan sampai bertanya : “Kamu yakin enggak di Salatiga kita bakal nemuin penginapan?”. Dengan sigap saya menjawab, “Yakin!”. Padahal jujur saya, agak gambling juga sih mencari penginapan di Salatiga. Tapi tak apa, karena katanya lebih baik mencoba daripada tidak mencoba sama sekali.

Dan ohlala.. Keputusan kami untuk meluncur ke Salatiga malah mempertemukan kami dengan sebuah plang bertuliskan “GOA RONG VIEW”. Apa itu? Kalau menurut si kawan yang sempat menemukan itu dalam risetnya, Goa Rong adalah sebuah view point untuk melihat Rawa Pening dari ketinggian dengan jelas. Lantas, tanpa peduli badan yang semakin lengket, kami pun membelokkan motor.

Lokasinya di Kecamatan Tuntang, Salatiga. Kalau kamu melewati lingkar luar Semarang – Yogyakarta – Solo, maka buat matamu awas setelah melewati jembatan Tuntang. Di sanalah jalan menuju Goa Rong View. Ingat saja Stasiun Tuntang sebagai patokannya.

Lagi-lagi kami harus melewati bukit demi bukit hingga sampailah kami di gerbang Goa Rong View. Nyatanya Goa Rong View ini adalah sebuah family resort yang lebih dikenal dengan nama Telogo Resort. Namun hanya dengan menaiki lagi perbukitan sekira 1 kilometer, kami mendapati sebuah restoran alakadarnya dengan sebuah gazebo di tengahnya. Itulah yang disebut-sebut orang sebagai view point Rawa Pening.

Sebelum matahari terbenam, kami memutuskan untuk santap sore terlebih dahulu. Lapar juga rasanya setelah berkeliling kesana kemari. Dan lagi-lagi kami harus mengucap syukur lantaran harga makanan yang berkisar antara Rp 15 ribu – Rp 25 ribu. Di Jakarta – tempat saya menetap kala itu – harga itu mungkin hanya cukup untuk makan sepaket nasi padang berisikan satu jenis lauk ditambah es teh manis.

Katanya, kalau orang kenyang, maka ia jadi begitu. Tapi tidak begitu dengan si kawan yang tak bisa diam itu. Ia malah curi start untuk merekam gampar matahari yang pelan-pelan turun ke bawah. Sementara saya, masih tergolek bego karena kekenyangan.

photo0603

Lembayung dari Goa Rong. (Mohon maaf kualitas seadanya)

Tapi amboi… saya tak kuat juga rupanya melihat layung yang menyapuh Rawa Pening itu. Lembayung berhasil membuat saya kembali cerdas. Sayangnya kala itu kami hadir bersama rombongan yang tak kami kenal. Alhasil agenda selfie di pinggir pagar Goa Rong berlatarkan saujana pun gagal. Tapi tak apa. Aduhai.. Amboi.. Maknyos.. Edan.. Anjir.. Astaga.. Subhanallah.. Entah pujian macam apa lagi yang harus saya keluarkan. Lanskap sore itu kemudian dijuluki oleh si kawan dengan : Golden Sunset!

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. Suara seorang pria menyeruak di Goa Rong View, menginformasikan para pengunjung jika waktu kunjungan sudah habis. Kami pun langsung tancap gas menuju Salatiga. Harapan akan sebuah kasur empuk dan kamar mandi tempat kami membuang daki.

Setelah bertanding dengan truk-truk besar di jalanan, akhirnya kami sampai juga di Salariga. “Kaya Bandung yah!” ujar si kawan. Udara yang sejur mengingatkan saya pada kampung halaman, Bandung. Kafe-kafe pinggir jalan yang dipenuhi anak muda, suara hentakan musik, lampu-lampu temaran, motor-motor yang berseliweran. Ini adalah kota. Selamat datang kembali peradaban!

photo0623

Kota Salatiga di siang hari.

Berputar-putar mencari hotel hingga kami bertemu dengan sebuah bangunan tua yang agak temaran. Itu adalah Hotel Mutiara. Agak menakutkan memang, tapi toh plang nama hotel itu seingat saya ditemukan di setiap sudut jalan di Salatiga.

Hotel melati saja. Dengan harga Rp 150 ribu kami mendapatkan kamar yang cukup nyaman dan luas. Lengkap dengan televisi dan kamar mandi dalam. Hotel ini menyatu dengan sebuah kapel. Sebab, ketika kami datang ke Hotel Mutiara, sejumlah kaum Nasrani Salatiga keluar dari pintu kapel yang baru saja menggelar Misa.

Sayang, belakangan kami tahu dari salah satu program televisi masa kini jika hotel itu merupakan salah satu hotel yang menjadi rujukan polisi untuk mencari orang-orang hilang. Hemat kami, mungkin itu hotel “nganu”. Bagi yang tidak suka dengan hotel-hotel semacam itu, tenang saja, ada banyak hotel di Salatiga.

Hari ke-2

Puas tidur semalam suntuk di atas kasur kapuk, kami lagi-lagi putar otak : kemana lagi kita akan pergi. Pasar Tradisional Tamansari di bilangan Jenderal Soedirman, Salatiga, jadi pilihan awal. Konon, di sana adalah tempat bagi mereka yang gemar membeli barang-barang bekas nan antik. Sebagai pecinta kaset sejati, tentu si kawan langsung sigap mengajak saya ke tempat itu.

Menengok barang-barang lampau yang berserakan. Mencari kejutan di antara tumpukan kaset yang sudah berdebu, bahkan di dalam rak yang berkarat. Seperti yang biasa saya lakukan di Jatinegara atau basement Blok M Squre, Jakarta.

Setelah puas mencari kejutan yang rupanya tak terlalu mengejutkan, kami beranjak ke Gunung Telomoyo di Kopeng. Informasi soal Gunung Telomoyo ini kami dapatkan dari penjaga gerbang Goa Rong View yang kala itu mengobrol dengan kami. Menurutnya, Telomoyo jadi salah satu destinasi oke. Sebab, puncak Gunung Telomoyo bisa dicapai dengan menggunakan motor.

Telomoyo adalah sebuah gunung yang terletak di kawasan Kopeng. Kopeng adalah jalur yang dilewati dari Salatiga menuju Magelang. Kawasan ini cukup tersohor. Kalau bagi orang Bandung, mungkin kawasan ini serupa Lembang.

photo0615

Di lereng Gunung Telomoyo.

Lagi-lagi perbukitan. Tapi argh.. sepanjang menelusuri Kopeng, kami dimanjakan dengan puncak-puncak gunung yang berdiri dengan anggun. Ada puncak Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo, Gunung Ungaran, bahkan puncak Gunung Sindoro-Sumbing menyempil sedikit terlihat pucuknya.

Lantas, sebagai explorer sejati, kami berkali-kali memutari kawasan tersebut demi menemukan jalan menuju Gunung Telomoyo.

Gerbang masuk ke kawasan Gunung Telomoyo terletak di Desa Dalangan, Kecamatan Kopeng. Tak terlalu tinggi, hanya 1.894 mdpl. Diapit oleh beberapa gunung seperti Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Ungaran, dan Gunung Sumbing.

photo0622

Agak tercengang saya ketika memasuki Desa Dalangan. Begitu banyak kapel di sana. Seingat saya, dalam setiap jarak 500 meter, pastilah kami temukan tempat ibadah kaum Nasrani itu. Dari jauh kami bisa melihat lanskap tiang-tiang Salib yang berdiri di tengah pedesaan, berdampingan dengan kubah-kubah Musalla. Damai. Apalagi di tengah perang SARA yang belakangan kian berkembang. Andai para penghardik itu tahu kalau di Desa Dalangan, Kopeng, betapa dua agama ini hidup rukun. Ibu-ibu mengangkut hasil tani, anak kecil bermain tanah.

Kalau boleh meminta, ingin rasanya tinggal di daerah ini. Daerah di mana waktu bisa berjalan pelan. Daerah yang memberikan kesempatan untuk menikmati setiap menitnya. Saya sampaikan itu pada si kawan, lalu ia menjawab, “Bisa (kerja di Kopeng) sih. Di sini minimal kamu bisa jadi wartawan buletin kecamatan.”

Gunung Telomoyo itu dikelola oleh Karang Taruna setempat. Dengan sebuah kartu berbayar seharga Rp 5 ribu, kami bisa langsung melesat menuju puncak Telomoyo. Benar saja, motor dengan aman melewati jalur pegunungan Telomoyo. Tapi sayang, tampaknya Gunung Telomoyo ini kurang terurus. Sebab, semakin ke atas, jalanan semakin menggila. Hingga akhirnya kami terpaksa memutar arah. Bukan karena takut jatuh, tapi karena takut harus mengganti uang ganti rugi jika motor yang kami tumpangi bermasalah.

Tujuan selanjutnya adalah mengitari Kota Salatiga. Berdasarkan informasi, Salatiga memiliki kopi yang jadi ciri khas daerahnya. Kopi Babah Kacamata, namanya. Kopi ini dirintis oleh Warsono (Tan Tjun Gwan) dan Lucia Rusmiyati pada tahun 1966. Legendanya Salatiga, nih!

Lokasinya di Jalan Kalinyamat, yang kerap kali salah saya sebutkan menjadi Jalan Kalimayat. Sesampainya di sana, aroma kopi langsung tercium dengan pekat. Seorang perempuan tengah menakar-nakar kopi untuk dimasukkan ke dalam plastik. Tak tanggung-tanggung, si kawan langsung membeli 10 bungkus. Katanya buat oleh-oleh keluarga di Bandung. Sementara saya si manusia kostan yang tinggal seorang diri, lima saja cukup lah.

Setelah puas berburu kopi dan mengitari Salatiga, tujuan selanjutnya adalah Rawa Pening. Ini dia salah satu destinasi utama yang sudah kami bayangkan sejak masih di Stasiun Senen, Jakarta. Rawa Pening berada di sebuah wanawisata Bukit Cinta. Aduh, dengar namanya saja sudah merinding-merinding lucu.

Tapi itu bukan tempat untuk bercinta, wahai kawan. Bukit Cinta hanyalah sebuah taman di pinggir danau. Untuk menuju ke sana, dari Salatiga kami berangkat melalui jalur Banyu Biru. Ada cerita menarik di Banyu Biru. Untuk memperjelas arah, kami bertanya pada seorang pria bertato, gondrong dan brewok, layaknya preman Tanah Abang. Begini percakapannya :

“Permisi, Mas. Mau tanya. Kalau Bukit Cinta arahnya kemana ya?”

“Oh iya, ke sebelah sana, Mas” (Sambil mengarahkan jalan dengan jempolnya, sopan)

Oh iya, terimakasih, Mas.”

“Njee…” (Ia berucap sambil tersenyum ramah)

Paradoks. Ketika seorang pria bertato nan gahar tahu posisi Bukit Cinta yang sangat manis dan menjawab setiap pertanyaan kami dengan sopan. Coba bandingkan dengan preman-preman Tanah Abang di Jakarta. Paling-paling mereka akan menjawab, “Kesono noh..”,dengan wajah sok menyeramkan.

Rencana kami di Bukit Cinta bukan untuk bercinta. Tapi untuk menikmati matahari terbenamdi atas perahu. Sekira pukul 16.30 WIB, kami menyewa sebuah perahu motor seharga Rp 60 ribu untuk paket pendek mengelilingi Rawa Pening selama 30 menit. Sebenarnya perahu ini bisa dinaiki sampai enam penumpang. Tapi berhubung kami hanya berdua, yah anggap saja ini private boat ala-ala.

photo0642

Bukan main nikmatnya menikmati sore di atas permukaan air Rawa Pening. Apalagi ketika perahu mendekat ke tumbuhan eceng gondok yang tumbuh dan tersebar di sana. Belum lagi gambaran warga sekitar yang mendayung kano di Rawa Pening. Tjakeps! Ditambah si kawan yang tak henti-hentinya berteriak dan menikmati tubuhnya yang terkenal cipratan air.

photo0657

Rawa Pening ini dikelilingi berbagai puncak gunung, di antaranya Gunung Ungaran, Gunung Andong, Gunung Arjuna, Gunung Telomoyo, dan Gunung Merbabu. Luasnya mencapai 2.500 hektare. Jika si kawan menganggap Rawa Pening ini serupa dengan Danau Toba, bagi saya lebih jauh dan lebay. Saking luasnya, saya malah merasa sedang berlayar di Lautan Flores.

Kegiatan kami di Bukit Cinta belum usai. Setelah puas mengitari Rawa Pening dengan perahu, di pojok Bukit Cinta rupanya ada spot – lagi-lagi – untuk melihat matahari terbenam. Mohon maaf, kami berdua memang penggila layung, entah sampai kapan.

Seturunnya dari perahu si kawan menarik saya berjalan ke pojokan Bukit Cinta. Saya bingung. Untuk apa si kawan mencari pojokan? Hmm.. Tapi nyatanya si kawan ini memang pintar. Pojok itu menghadirkan pantulan sinar matahari yang mulai tertidur.

photo0667

Kurang ajar memang si Rawa Pening ini. Sampai-sampai membuat kami menahan malu ditonton sepasang kekasih yang kebetulan lewat dan memergoki kami yang asyik berjoged dengan tembang White Shoes and The Couples Company di pinggir danau. Duh!

Hari ke-3

Ini adalah hari terakhir dalam perjalanan kami. Rencana awal adalah mengejar kereta wisata di Stasiun Ambarawa pada pukul 08.00 WIB. Tapi apa lacur, nyatanya sebuah kedai kecil di Banyu Biru membuat kami terpaksa melenceng dari rencana semula. Kedai Amigos, namanya. Sebuah kedai yang dikelilingi hamparan sawah.

Kami memilih untuk mengisi perut di sana. Amigos.. Jongjon sekali! Menikmati secangkir kopi panas dan kentang goreng di depan hamparan sawah nan hijau lengkap dengan angin paginya.

Tapi di sana ada yang menarik. Hal itu didapat dari kelakuan pemilik Amigos yang kurang kerjaan tapi kreatif luar bisa. Dari luar, di pojok lahan parkir terdapat sebuah toilet. Di depannya bertuliskan : “Toilet Panel Surya”. Ya bagaimana kami tidak penasaran? Luar biasa, ada toilet panel surya di Banyu Biru.

Si kawan, yang giliran pertama kali mencoba toilet itu, langsung cekikikan ketika kembali ke meja. Saya penasaran, ada apa? Lantas saya ikut mencobanya. Rupanya…………..

photo0679

Toilet itu berbentuk balok persegi panjang berukuran kecil. Dindingnya berpulas hijau ceria. Bagian atap toilet hanya ditutup seng plastik transparan, hingga sinar matahari tepat menyorot ke dalam toilet. Tak ada yang aneh. Ada ember, gayung, dan kakus. Tapi di salah satu bagian dinding, ada sebuah kertas yang ditempel. Kertas itu bertuliskan :

Toilet Panel Surya

“Srengene Mbrobos”

Made in Semarang City

Fak! Toilet panel surya di mana srengene mbrobos (matahari menerobos masuk).  Rupanya toilet nan kreatif itu sengaja dibuat si empunya kedai untuk mengerjai pengunjung. “Iseng aja itu,” kata si engkoh sambil tertawa cekikikan. Duh, tertipu!

Tak mau terlalu lama ber-jongjon ria di Kedai Amigos, kami melanjutkan perjalanan. Stasiun Ambarawa! Yihha! Aneh rasanya jika kami ke Ambarawa tanpa naik kereta tua nan legendaris itu.

Kereta Wisata Stasiun Ambarawa ini hanya beroperasi setiap hari Minggu dan hari libur. Dalam satu hari ia akan beroperasi sebanyak tiga kali : pukul 08.00 WIB, pukul 10.00 WIB, dan pukul 12.00 WIB. Untuk masuk ke Stasiun Ambarawa, kami ditarik tarif Rp 10 ribu. Untuk menaiki kereta tuanya, kami ditarif lagi tiket seharga Rp 50 ribu. Agak mahal memang. Tapi harga itu terbayar dengan pengalaman kami berada di atas kereta tua itu.

Kereta yang kami naiki hanya melayani jalur Stasiun Ambarawa – Stasiun Tuntang. Rutenya melewati pinggiran Rawa Pening. Di loket, seorang petugas menyuruh kami untuk segera ngetake bangku di sebelah kanan pintu masuk. Katanya, agar bisa melihat Rawa Pening. Petugas yang baik hati. Tahu saja ia keinginan kami.

photo0707

Dari luar, kereta tua itu tampak gagah dan rupawan jika ia laki-laki dan tampak anggun jika ia perempuan. Interior kayu jati dalam kereta membikin pikiran saya berkelana. Bagaimana suasana ketika para meneer-meneer pada zamannya menaiki kereta ini? Apakah mereka sama seperti kami yang heboh dan terus menyunggingkan senyum sumringah ketika duduk di kursi kayunya?

Lonceng berbunyi. Tunn.. Tunn.. Kereta pun berjalan pelan. Dari atas mereka, kami bertemu dengan masyarakat Ambarawa yang tinggal di pesisir Rawa Pening. Mereka yang tengah menikmati kopi, bergosip ala-ala warung kopi. Dan si kawan yang satu ini – yang mungkin urat malunya sudah entah di mana – berteriak kepada siapa saja yang ia lewati. “Halo, Bapak! Pak, jempolnya, Pak!” ujarnya sembari melambaikan tangan bak artis papan atas menyapa fans.

photo0718

Lama kelamaan mungkin si kawan lelah. Saya hanya tertawa-tawa melihat ulahnya sembari sesekali ikut berteriak. Karena lelah, akhirnya kami sepakat untuk mendengarkan musik lewat gadget masing-masing. Ha! Setiap perjalanan bakal selalu pas jika ditemani alunan musik. Saya memutar salah satu musik favorit saya dalam setiap perjalanan.

Take me somewhere I can breathe/ I’ve got so much to see/ This is where I wanna be/ Comin’ closer to you”

All Saints “Pure Shores”

Sesampainya di Stasiun Tuntang kami memutuskan untuk tidak turun dari kereta. Lalu karena mulut rasanya gatal untuk berasap, kami berpindah tempat ke batas gerbong kereta. Si kawan menyuruh saya duduk di sampingnya, di tangga kereta. Agak menyeramkan. Apalagi ketika dalam perjalanan pulang kami melewati jembatan tinggi. Seperti melayang!

Di sana, si kawan bertingkah lagi. Ia minta saya untuk mengambil fotonya dari belakang untuk memperlihatkan dirinya seolah-olah mengirup udara segar keluar dari kereta. Bingung sih, seperti mau terbang pokoknya. Padahal di sebelahnya, seorang bocah melakukan hal yang sama. Haha. Mungkin ia terinspirasi si bocah.

photo0736

Satu jam sudah perjalanan kami pulang-pergi Stasiun Ambarawa – Stasiun Tuntang. Setelah berfoto-foto lucu di antara koleksi kereta tua, kami meninggalkan Museum Stasiun Ambarawa untuk selanjutnya mengunjungi Goa Maria Kerep.

Setelah berheboh-heboh ria di atas kereta, tiba-tiba kami dihadapkan pada suasana magis yang begitu agung. Sesampainya di Goa Maria Keres, tiba-tiba saya diam tam banyak bicara. Kami memasuki sebuah kapel terbuka di Komplek Goa Maria Kerep. Di depan saya, ada seorang ibu yang tengah berdoa. Pandangan saya tak terlepas darinya. Sebagai manusia kekinian, saya merasa ditampar.

Lantas kami mengikuti jalur Jalan Salib, mengikuti sebuah rombongan. Badan saya bergetar. Di beberapa titik nampak orang-orang yang bersimpuh di depan patung Bunda Maria. Mereka berdoa, dengan khusyuk.

photo0691

Jujur saja, saya tak mengerti apa yang mereka lantunkan. Sudah jelas karena saya bukan seorang Nasrani. Si kawan mengaku jika kali itu adalah kali pertamanya ia berada di lingkungan yang tak dikenalnya. Sementara saya, sedari kecil sudah terbiasa dengan komunitas ini. Pasalnya, saya masih ingat, setiap hari Minggu, ayah dan ibu sering membawa saya ke Gereja untuk mengikuti Misa. Kebetulan saat itu Ayah adalah seorang staf pengajar di salah satu sekolah Katolik di Kota Bandung. Di sana pula Ibu mengajarkan saya soal perbedaan antara kami dan mereka. Rupanya, ada sedikit kerinduan akan masa kecil yang saya rasakan di sana.

Terlalu lama meresapi kesakralan Goa Maria Kerep, kami sampai lupa jika kami dikejar oleh jam pengembalian motor. Belum lagi itu hari Minggu, esoknya adalah hari Senin, di mana saya harus kembali bertemu dengan deadline. Hari di mana kami kembali menjadi manusia kota.

Kami melesat kembali ke Semarang dengan jalur yang berbeda. Jika sebelumnya kami menggunakan rute umum, untuk kembali ke Semarang kami memilih untuk melewati kawasan Bandungan. Si kawan rupanya malas bertempur dengan truk-truk besar. Setidaknya, jalur Bandungan ini lebih manusiawi.

Sesampainya di Ungaran, melihat plang bertuliskan “Warung Steak & Shake”, mata kami langsung tergoda. Tanpa pikir panjang, kami bersantap siang di sana.

Setelah sebelumnya kami berlaku melankolis untuk menghargai ini dan itu, sesampainya di Ungaran kami kembali menjadi manusia kota dengan sepotong daging steak dan segelas milkshake dingin nan segar. Selamat datang lagi peradaban! Selamat datang lagi kehidupan!

Terimakasih saya ucapkan pada si kawan yang rela mengitari USA dengan motor matic pinjaman, juga untuk fitur tagar di Instagram, untuk internet yang tanpanya kami tak tahu informasi apa-apa, untuk warga USA yang dengan ramah memberi kami rekomendasi demi rekomendasi. Dan, untuk motor matic yang menjadi saksi euforia tiga hari itu.

Satu tahun berlalu, hingga saat ini saya masih berharap agar suatu saat nanti saya bisa kembali ke Ambarawa dan Salatiga.

Oiya, ini nih foto saya bersama si kawan numpak matic.

photo0611

CIAO!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s