Tanah Merah Padusi

Standard
IMG_3493
”Semak belukar memerah, lalu musnah.” Begitu ucap Laksmi Notokusumo di antara sorot sinar lampu kemerahan yang mewarnai Hutan Kota Sangga Buana, Kali Pesanggrahan, Jakarta. Ia bersimpuh di antara empat pemusik yang tergeletak tanpa lupa meniup serunai, dijeridu (didgeridoo, alat musik tradisional Suku Aborigin), pupuik, dan saluang. Ia merintih menyesali rimbun kampung halamannya yang kini musnah rata dengan tanah.
Sepenggal adegan monolog itu jadi bagian dari pertunjukan berjudul “Tanah Merah”. Karya tersebut merupakan bagian dari presentasi besar berjudul Phase karya koreografer Jefri Andi Usman, yang dibawakan pada Sabtu, 23 April lalu di Hutan Kota Sangga Buana Kali Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Gerimis turun perlahan ketika Laksmi merobek-robek sehelai kertas di antara ribuan surat penyebab hilangnya kampung halaman. ”Kita tahu sekarang lagi musim hujan. Tapi kita tidak menyiapkan pertunjukan untuk kondisi hujan,” kata Jefri. Ia tidak menyesali hujan yang turun malam itu.
Alas panggung berbahan kain terpal yang tipis pun lama-lama basah dan licin. Namun, itu tidak menghalangi gerakan dua penari (Maria Bernadeth dan Davit) yang intens mengetengahkan kosagerak ekspresif, lincah, dan tak terlihat ragu. Sebaliknya, hujan yang lama-lama turun dengan deras malah membuat kedua penari itu kian peka dengan improvisasi-improvisasi gerak di beberapa adegan.
Jefri mengartikulasikan Phase sebagai masa yang ditempuh. Karya ini berbicara tentang waktu yang membuat hubungan antara manusia dengan manusia, juga manusia dengan alam, kian tidak bersinergi. Sebuah pernyataan koreografis tentang isu lingkungan dengan tidak meninggalkan koridor kebudayaan Minang yang melatari kehidupan Jefri.
Phase terdiri dari dua repertoar gerak. Bagian pertama mengambil tema ”Tanah Merah”, sedangkan bagian kedua bertema ”Padusi”. Dalam keduanya, Jefri merepresentasikan kegelisahannya tentang kerusakan alam dan bergesernya nilai-nilai kultural perempuan dalam budaya matrilineal di Tanah Minang.
”Berziarahlah… Berziarahlah ke pusara tanah merahmu,” begitu bunyi pembuka monolog ”Tanah Merah” yang naskahnya ditulis Damhuri Muhammad.
Kekuatan repertoar ”Tanah Merah” tak hanya terletak pada naskah dan kosagerak. Melainkan juga unsur-unsur lain yang dibuat sealami mungkin. Resonansi susunan bambu membuat musik yang dimainkan secara akustik tetap maksimal. Juga set panggung berupa dahan-dahan pohon bambu yang disusun dengan komposisi meniru alur pohon-pohon di sana sebagai visual latar.
Dari susunan bambu itulah Jefri turun ke arena panggung. Setelah menjejak tanah, lantas ia mengangkat kakinya ke udara. Sekali waktu ia berdiri dengan kepala. Gambaran tentang alam yang keos itu bersambung dengan gerak tubuhnya yang menggelepar lalu jatuh, pasrah. Kemudian ia berguling lambat di atas lantai, pelan-pelan melepaskan bajunya satu per satu, hingga akhirnya ia bertelanjang dada dan menghilang.
Jefri rupanya begitu nelangsa oleh kerusakan alam sebagai gambaran kekinian. Iya. Dalam dunia kontemporer ini, keluhan tentang kekayaan alam yang semakin tak terurus menjadi obrolan-obrolan yang tak pernah usai. Phase, bagi Jefri, adalah cara untuk mengingatkan bahwa perubahan telah mengubah alam tak lagi alami. Manusia sudah mengintervensi alam sedemikian rupa.
Hutan telah hilang, menjadi pusara tanah merah. Setelahnya, giliran Jefri bercerita tentang perempuan di Tanah Minang dalam Padusi. Maria muncul sebagai gambaran perempuan Minang di zaman kiwari. Awalnya ia tampak anggun dan penuh wibawa. Tapi kemudian ia mencopot suntiang yang tertancap di kepalanya. Dengan rona getir wajah setiap kali suntiang itu dilemparnya.
Bagi orang Minang, suntiang adalah simbol rumah tangga dan ikatan suami istri. Seorang perempuan Minang, selain dituntut kuat secara fisik, juga dituntut untuk memiliki kekuatan untuk memikul tanggung jawab dalam kehidupan berumah tangga.
Adegan melepas suntiang yang dibawakan Maria ini merupakan simbol pembangkangan adat-istiadat di Tanah Minang. Gelegar suara tetabuhan dan tiupan saluang menggema tiap kali Maria melepas dan melempar suntiang-nya jauh-jauh. Seolah ikut meratapi pembangkangan perempuan Minang.
Tapi di tengah pembangkangan itu muncul Davit. Mereka menari dengan tatapan tajam, seolah saling mencurigai. Di sini ada “pertarungan”. Tapi juga ada kekuatan saling tarik-menarik. Momen cinta, hasrat, dan konflik, semua jadi satu dalam kosagerak yang tak tertahankan.
Dalam babak “Padusi”, sosok Jefri yang berdarah Minang terasa begitu kental. Padusi, dalam bahasa Minang, adalah perempuan sebagai simbol bumi yang melahirkan kehidupan. Baginya, padusi bukan hanya sebuah legenda. Justru, realitas mengatakan bahwa perempuan menjadi sosok yang utama. Perempuan naik ke rumah, laki-laki ke luar rumah. Tanpa perlu disejajarkan. Padusi adalah sosok perempuan sebagaimana makna gender dalam konstruksi budaya.
Belum lagi kosagerak yang hampir menempatkan silek (silat) sebagai gerak dasar keseluruhan pertunjukan. Sajian tari tidak terlepas dari silek kumangosilek ulusilek ambek, dan silek harimau. Melalui seni bela diri Minang itu, Jefri mencoba mengembangkan koreografinya.
Hujan makin deras. Davit perlahan menjauh. Maria terus bersilat hingga perlahan lunglai. Bersamaan dengan suara derak bambu yang diguncang Teuku Rifnu Wikana dari atas sususan bambu, sembari berkata:
”Kunamai engkau Padusi. Sorot matamu nyala api. Gelang antingmu kawat berduri.”
Dipublikasikan di Majalah GATRA Tahun XXII – 28
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s