Pangsi Sebagai Simbol Sunda yang Dikenal Setengah-setengah

Standard
pangsi

Masyarakat berbondong-bondong mendatangi Balai Kota Bandung dengan pakaian pangsinya. (Dokumentasi : Uwie Prabu)

Pelataran Balai Kota Bandung mendadak berwarna hitam pada Sabtu, 15 April 2016 kemarin sore. Tapi itu bukan petanda berkabung. Melainkan gara-gara segerombolan orang dari berbagai daerah di Jawa Barat yang menyerbu Balai Kota Bandung dengan pakaian pangsi Sunda serba hitamnya.

Mereka tidak datang tanpa maksud, asal saja datang ke Balai Kota Bandung dengan menggunakan pangsi. Tapi mereka bersama-sama menggelorakan semangat urang Sunda dalam helatan Bandung Lautan Pangsi. Sebuah gelaran yang digagas oleh Forum Jaga Lembur – forum tempat berkumpulnya masyarakat dari berbagai elemen – dengan maksud turut serta ngamumule budaya warisan leluhur tatar Sunda.

Ribuan urang Sunda berpangsi berkumpul di Balai Kota Bandung hari itu. Ada yang bergaya ala Gopalisme – satu kultur fesyen yang menjamur di Bandung gara-gara seorang tokoh Sunda yang kerap disapa Abah Gopal. Lengkap dengan aksesoris tubuhnya yang terbuat dari bahan-bahan alam, juga dengan topi caping. Sampai-sampai, Cepot pun ikut nimbrung di kumpulan itu. Ada seorang warga yang sengaja berdandan ala Cepot dalam gelaran itu. Lagi-lagi, demi membudayakan pangsi Sunda dalam kehidupan Kota Bandung.

Jumlahnya tercatat ada 2.017 orang yang menggunakan pangsi. Angka itu pula yang berhasil menjadi pemecah rekor nasional, pun dunia. Secara sengaja, disesuaikan dengan tahun pelaksanaan, pihak penyelenggara mengumpulkan orang-orang berpangsi sebanyak 2.017 orang. Original Rekor Indonesia (ORI) beserta Record Holder Republic (RHR) pun menyerahkan piagam rekor tersebut.

Perwakilan RHR Indonesia, Lia Mutisari mengatakan bahwa diberikannya piagam rekor dunia pada helatan Bandung Lautan Pangsi ini dilakukan atas dasar mempersilahkan budaya fesyen pangsi agar dikenal dunia. “Karena pangsi ini salah satu kekayaan budaya yang dimiliki Jawa Barat,” ujarnya.

Helatan Bandung Lautan Pangsi ini mengumpulkan sekitar 20 komunitas kesundaan yang ada di Jawa Barat. Ketua Forum Jaga Lembur, Wawan Purwanda mengatakan helatan ini memang sengaja digagas sebagai ajang silaturahmi dan komunikasi antar pegiat budaya Sunda melalui simbol pangsi.

Iya, pangsi dalam helatan ini sebenarnya hanyalah sebuah simbol budaya Sunda yang mulai terkikis. “Sekarang siapa yang suka pakai pangsi?” ujar WawanBernasib sama dengan unsur-unsur kultural Sunda lainnya, pangsi pun dinilai Wawan kian tergerus.

“Kita kudu jadi nu pangsiapna ngamumule budaya Sunda (Kita harus jadi yang paling siap untuk menjaga budaya Sunda),” tegas Wawan.

Pangsi sendiri merupakan salah satu pakaian khas adat Sunda, warisan nenek moyang. Memang, sampai sekarang belum ada literatur pasti yang mencatatkan bagaimana sejarah dan filosofis pangsi Sunda. Pasalnya, selama ini budaya pangsi Sunda biasa diwariskan secara turun temurun, dari generasi ke generasi.

Karuhun percaya bahwa dalam setiap bentuk dan jahitan, pangsi Sunda punya makna tersirat. Makna itu sebagai pengingat para pemaikanya agar senantiasa berintrospeksi diri dan menjadikan pangsi sebagai filosofi hidupnya.

Misalnya saja makna tentang rukun Islam dan rukun Iman yang hadir di bagian salontreng (bagian baju). Ada juga makna mengenai silih asah, silih asih, silih asuh dalam jahitan beungkeut yang menghubungkan badan dengan tangan.

“Orang dulu, nenek moyang kita, menggunakan pangsi tidak sebatas persoalan fesyen atau penutup tubuh.”

— Ketua Jaga Lembur, Wawan Purwanda

Namun sayang, di zaman kiwari, meskipun tren pangsi kian digemari, terkadang penggemar pangsi itu lupa pada filosofinya. Wawan pun mengakui adanya tren tersebut. Namun itu tak jadi masalah. Karena menurut Wawan, biarkan saja orang-orang itu berawal dengan hanya menyukai tren pangsi Sunda. “Toh, lama-lama semakin mereka menyukai pangsi, makna pangsi itu secara tidak langsung pelan-pelan akan tertanam,” tambahnya.

Sedikit klise memang ketika kita lagi-lagi bicara soal pelestarian budaya warisan leluhur. Berbagai upaya membudayakan warisan leluhur itu kini tengah jadi fokus banyak orang dan membentuk trennya sendiri. Namun kini, setidaknya yang bisa dilakukan orang Sunda mungkin hanya satu: ngamumule warisan leluhur dengan cara masing-masing.

 

Dipublikasikan juga di : AyoBandung (16 April 2017)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s