Mereka yang Berteriak Berikan Kami Akses Mudah

saparua

Suasana konser musik di GOR Saparua, Bandung, dekade 1990-an. (Diambil dari dcdc.com)

Semburat cengiran kecil keluar dari wajah Yala ketika ia mengingat momen di kala 18 tahun silam. Saat itu, Yala yang masih duduk di bangku SMA, bersama grup musiknya, Authority, untuk pertama kalinya mendapat tepuk riuh penonton yang memenuhi GOR Saparua, Bandung. “Aslinya! Gua cengo waktu itu. Bangga atuh dengar nama band sendiri diteriakin orang banyak,” kenangnya.

Berdiri di tahun 1994, mendapatkan teriakan riuh pertama di tahun 1999. Perjalanan lima tahun Authority – salah satu dari sederet nama grup musik yang meriah di era 1990an – setidaknya berbuah hasil. “Soalnya waktu itu acara musik di Bandung rutin, konsisten, bikinnya enggak terlalu susah,” ujar Yala Roesli ketika ditemui di Rumah Musik Harry Roesli (RMHR), Bandung, beberapa waktu lalu. Kala itu, grup musik pemula punya wadah untuk berekspresi dan pelan-pelan memperkenalkan dirinya pada masyarakat. Unsur kolektivitas dan militansi para pelaku menjadi ciri kejayaan geliat musik Bandung di era itu. GOR Saparua kerap disebut-sebut sebagai saksi bisunya.

Namun sayang, hampir dua dekade berjalan, yang ditemukan malah kondisi terbalik dari masa itu. “Ayeuna mana? Euweuh..,” keluh Yala. Iya, masa jaya itu sedikitnya telah hilang. Penyebabnya, apalagi kalau bukan susahnya para pelaku untuk menembus akses. “Mau bikin raramean kaya dulu mah susah kalau sekarang,” tambah Yala kesal. Perizinan yang dipersulit, ongkos sewa gedung yang tinggi, membuat para pelaku musik Bandung gigit jari.

aacc

Lilin dan bunga di depan Gedung Asia Africa Culture Center (sekarang New Majestic) mengenang tragedi Sabtu Kelabu. (Diambil dari suaramahasiswa.com)

Namun hal ini tak sekonyong-konyong terjadi begitu saja. GOR Saparua, sebagai satu-satunya gedung yang paling mudah untuk diakses semua kalangan pada masanya, secara resmi menutup tempatnya untuk gelaran musik – khususnya musik bawah tanah – pada tahun 2000 silam. Masalah kemudian diperparah atas peristiwa Sabtu kelabu ketika sebelas orang tewas dalam konser band Beside di Asia Africa Culture Center atau yang sekarang berubah menjadi Gedung New Majestic, pada 9 Februari 2008. Praktis sejak saat itu hingga kini, selain susah mendapat tempat, soal izin pun kian dipersulit.

Tak ayal, kondisi itu rupanya tidak hanya bikin gerah anak-anak Bandung. Berjarak sekira 150 kilometer, band asal Jakarta, Seringai, mengirimkan beberapa pesannya untuk skena musik Bandung dalam lagunya yang berjudul Dilarang di Bandung.

Dilarang di Bandung, samar masa depan
Generasi menjanjikan kini dipersulit
Dilarang di Bandung, samar untuk bergiat
Rampas kebebasan, mulai lagi dari awal.

— Seringai

Padahal, disadari atau tidak, kehidupan musik di Kota Bandung memiliki potensi baik itu dalam bidang sosial, budaya, dan ekonomi. Mengenalkan nilai-nilai baru serta ekosistem kreatif yang bisa tumbuh dari kultur tersebut. Sayangnya, potensi-potensi itu selalu dibidik oleh perusahaan maha sponsorship yang hanya mencari pasar.

Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil pernah mengeluarkan jargon yang bunyinya begini : “Bandung Kota Musik”. Namun sayang, hingga saat ini jargon ‘Bandung Kota Musik’ itu hanya kalimat semata. Pemerintah dinilai belum bisa bersentuhan secara nyata dalam upaya mengedepankan musik sebagai potensi daerah.

“Dari segi perhatian mungkin memang pemerintah sudah berikan itu. Tapi dari sisi keefektifan seperti mudahnya akses dan fasilitas ya masih diragukan,” ujar Pengamat Musik Kota Bandung, Idhar Resmadi beberapa waktu lalu.

Selama hampir 25 tahun eksistensi komunitas musik Kota Bandung berjalan, Idhar mengatakan, peran dan dukungan pemerintah hampir nihil. Meskipun begitu, memang benar bahwa keberadaan komunitas musik Bandung yang tanpa dukungan pemerintah ini tetap bisa berjalan. Namun terbatas dengan ekosistem musiknya sendiri.

Cukup berikan dukungan nyata berupa kemudahan akses. “Saya dengar banyak keluhan dari teman-teman EO yang minimal meminta bisa dimudahkan akses izin penyelenggaraan acara musik,” ujar Idhar bercerita.

Dulu, Bandung punya “Bandung Berisik” dan sederet gelaran rutin lainnya. Sekarang, cobalah tengok Hellprint Festival. Bagi Idhar, Hellprint Festival tak ubahnya ceruk untuk membuka sektor ekonomi kreatif Kota Bandung. “Itu jadi bukti kalau dari satu festival aja sudah bisa membangkitkan beberapa sektor ekonomi,” ujarnya. Coba kalau gelaran-gelaran serupa Hellprint dimanfaatkan dengan baik. “Kan jadinya geliat musik di Bandung bisa makin edan,” tambahnya.

Sehingga menurut Idhar, dalam hal ini jelas pemerintah seharusnya mampu untuk memegang kontrol. Membuka akses perizinan, infrastruktur yang mumpuni, dan yang paling utama mampu membuka potensi ruang berekspresi para pelaku musik.

 

Dipublikasikan juga di : AyoBandung bersama dengan Eneng Reni. (28 Maret 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s