Hibernasi Skena Musik Bandung, Iraha Hudangna Bray?

Standard
otong_koil

Otong, frontman salah satu grup musik asal Bandung, KOIL. (Dok. Arfian Jamul)

Konon, Bandung itu barometer industri musik tanah air. Anggapan itu rasanya sudah jadi rahasia umum di telinga masyarakat. Bandung boleh dibilang sebagai rahim bagi banyak musisi kaliber nasional.

Kelahiran nama-nama besar dari kota kembang terus bergulir dari tahun ke tahun. Bandung seolah-olah menjadi penyedia musisi dari berbagai aliran. Iya, di kota ini semua warna pernah tumbuh subur dan berkembang. Namun, belakangan regenerasi itu rupanya kian padam.

Jika dirunut kembali ke masa kejayaan geliat skena musik Bandung, di sekitar tahun 1970-an misalnya, lahir banyak musisi yang dianggap sebagai corong musik Indonesia. Tidak hanya menorehkan sejarah bagi musik Indonesia, tapi juga di dunia. Gang of Harry Roesli misalnya yang bahkan albumnya berjudul Philosophy Gang of Harry Roesli saja dirilis oleh Lion Records asal Singapura.

gang of philosophy

Philosophy Gang of Harry Roesli (Lion Records) — (Diambil dari discogs.com)

Pencatatan itu kemudian didukung lagi oleh era 1990-an dengan mewabahnya istilah musik independen yang mengokohkan Bandung sebagai embrio musik independen tanah air. Misalnya saja Pas Band yang menelurkan album For Through the Sap pada tahun 1995 sampai digadang-gadang sebagai pelopor musik independen Indonesia. Yang kemudian disusul lagi oleh sederet band lainnya seperti Puppen, Pure Saturday, Burgerkill dan lain-lain.

Tapi apa lacur, pasca ditutupnya perizinan untuk menggelar pertunjukan musik di GOR Saparua ditambah dengan Tragedi AACC yang menewaskan sebelas anak muda dalam konser peluncuran album band Beside pada Februari 2008 silam, izin pun kian dipersulit. Juga yang penting, menyebabkan skena musik Bandung tertidur dalam waktu lama. Tidak hanya perizinan yang diperketat, ongkos sewa ruang pertunjukan musik pun kian mahal, serta banyaknya pelarangan dan pembubaran acara musik, khususnya di ranah musik independen Kota Bandung.

Ya, skena musik Bandung akhirnya hadir dengan berbagai keterbatasan.  Yang ujung-ujungnya, disadari atau tidak, membuat skena itu jadi stagnan dan nyaris kehilangan eksistensinya. “Dibilang enggak ada, tapi ada. Dibilang ada, tapi enggak kelihatan,” ujar Pengamat Musik Kota Bandung, Idhar Resmadi.

Hingga akhirnya dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, sejumlah korporat, terutama rokok, mulai melirik potensi pasar melalui sektor musik yang dimiliki Bandung. Sudah jelas bahwa ekonomi kreatif melalui jalur musik di Bandung punya pontesi yang cukup besar lantaran populasi anak muda yang terbilang tinggi.

Bahkan, munculnya beberapa gigs yang disponsori oleh berbagai perusahaan rokok ini dilihat Idhar sebagai satu paradoks tersendiri. “Dari situ saya melihat kok Bandung untuk urusan musik hanya jadi pasar ya sekarang?” keluh Idhar.

Segudang persoalan itu akhirnya menimbulkan krisis kepercayaan diri dan inovasi dari para pelaku musik Kota Bandung saat ini. Hilangnya pula inisiatif gigs ke gigs yang mengangkat daya tarik konseptual semakin meredupkan semangat geliat skena musik kota kembang ini.

“Yang perlu ditekankan adalah memberikan ruang untuk para pelaku musik agar mereka tetap bermunculan,” ujar Idhar.  Sementara kini, pelaku musik dihadapkan oleh minimnya ruang dan kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya.

Padahal di Bandung, musik sebenarnya punya fungsi sebagai pengikat berbagai sektor kreatif. Coba tengok kembali masa silam, ketika bagaimana tren distribution outlet atau yang beken dengan sebutan distro awalnya tercipta lantaran kultur musik itu sendiri. Ketika pada masanya, distro menjadi tempat bagi para musisi untuk menjajakan merchandise­-nya dalam bentuk fesyen atau apapun dengan sistem kolektif. Ini jadi bukti bahwa musik, seyogyanya bukan satu subjek yang berdiri sendiri.

“Saya pikir musik memang harus jadi driver. Jadi lokomotif dalam menggerakkan kultur kreatif lainnya. Sebab musik punya pengaruh besar untuk mengikat pertumbuhan sektor-sektor kreatif lainnya.”

— Idhar Resmadi

Nah, bagaimana membuatnya kembali menggeliat agar musik bisa jadi lokomotif kembali seperti sedia kala? Jawabannya, lagi-lagi tertuju pada kebebasan untuk mengakses ruang yang mendukung para musisi untuk berkarya. “Keinginan musisi itu standar kok. Mereka ingin manggung lah kasarnya. Ingin karyanya bisa diapresiasi lebih luas,” kata Idhar.

Bandung harusnya tidak hanya bermimpi untuk jadi Kota Musik, tapi rangkai kembali konstruksi. Memorabilia perjalanan skena musik Bandung bukan sekedar kenangan-kenangan nostalgik masa lalu, tapi juga landasan kehidupan masyarakat Bandung saat ini. Agar skena musik Bandung lekas bangun dari hibernasinya.

Krisis Percaya Diri

Telah menjadi rahasia umum hari ini bahwa skena musik Kota Bandung hadir dengan berbagai keterbatasan. Mau tidak mau, kehidupan skena itu pun kian stagnan. Mulai dari gap antar komunitas musik hingga gelaran musik yang menampilkan band itu-itu saja.

Namun, harus dilihat juga. Apakah sumber masalah ini memang berawal dari band yang tidak percaya diri? Media yang kurang mengangkat? Atau bahkan event organizer yang terkesan ogah-ogahan mengundang musisi baru lantaran dianggap tidak memiliki daya tarik pasar? Cukup kompleks memang. Namun, Pengamat Musik Kota Bandung, Idhar Resmadi menegaskan bahwa yang dibutuhkan sat ini adalah rasa percaya diri dari musisi baru itu.

 

DSCI0152

The Milo dalam salah satu edisi gelaran musik Coupe de Neuf di IFI Bandung, sekitar tahun 2009. (Dok. Pribadi)

“Dulu, musisi Bandung era 1990an itu punya rasa percaya diri yang membawa mereka tetap eksis hingga saat ini,” tegas Idhar. Sebut saja Pure Saturday, Puppen, atau Pas Band yang telah berhasil membuktikan kemampuannya menggebrak industri musik Indonesia.

“Mereka itu keukeuh,” tegas Idhar lagi. Pure Saturdaya misalnya, yang super pede di tengah tren musik cadas kala itu, malah berhasil merangsak masuk dengan musik pop-nya. Atau keberhasilan Pas Band di antara tren musik menye-menye yang sekonyong-konyong muncul dengan mengusung alternative rock.

Jadi, Idhar berpikir persoalan band yang tampil itu lagi itu lagi disebabkan oleh rasa minder yang dirasa oleh para musisi baru ini. “Insecure dan tidak percaya diri. Ya jangan gitu,” ujar Idhar. Musisi baru harus mau menumbuhkan rasa percaya diri. Pasalnya, Idhar yakin masih banyak ruang-ruang komunitas yang mau berbagi dengan band-band baru.

 

Dipublikasikan juga di : AyoBandung bersama dengan Eneng Reni (28 Maret 2017)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s