Dari Jasad hingga Gopalisme, Tren Fesyen Sundah yang Hanya Separuh

pangsi 1

Peserta “Bandung Lautan Pangsi” di Balai Kota Bandung. (Dok. Uwie Prabu)

Ada suasana yang tak biasa di sudut-sudut Kota Bandung. Suasana tak biasa itu menggeliat selama sekitar satu dekade lamanya. Bejubel anak muda kerap yang berpakaian serba hitam bertuliskan aksara Sunda kuno atau berpakaian adat serupa pangsi Sunda, lengkap dengan kain iket yang tergulung rapi di kepala.

Mereka ada dimana-mana. Di trotoar-trotoar jalan hingga berkerumun dalam gelaran musik cadas yang biasa digelar komunitas-komunitas underground Bandung. Gara-garanya adalah Mohammad Rohman atau yang tersohor dengan nama Man Jasad. Dedengkot grup musik JASAD ini lah yang menularkan virus ke-Sunda-an pada sejumlah anak muda Bandung kala itu. Baik melalui musiknya yang dikolaborasikan bersama dengan alat-alat musik Sunda berupa karinding, juga dengan fesyen panggungnya menampilkan ponggawa band death metal dengan baju pangsi juga iket Sunda.

Tren fesyen Sunda itu memang tengah mewabah di Kota Bandung. Berlangsung sekira sejak tahun 2006 silam. Dimana kala itu, kehidupan Sunda sedang mulai merangkak mencari eksistensinya di Kota Bandung.

Hingga kini, rupanya tren itu terus terjaga. Pemerintah Kota Bandung rupanya merespon tren itu atas dasar keresahan hilangnya budaya Sunda, dengan menerapkan program Rebo Nyunda, yang setidaknya, mewajibkan pegawai di lingkungan Pemerintah Kota Bandung untuk menggunakan pakaian adat Sunda di setiap hari Rabu.

Terakhir misalnya gelaran Bandung Lautan Pangsi yang diselenggarakan oleh sejumlah elemen masyarakat komunitas ke-Sunda-an di Jawa Barat pada Sabtu (15/4) kemarin di Balai Kota Bandung. Tak ayal, ribuan masa pun hadir dengan ‘atribut-atribut’ ke-Sunda-annya. Menjadi pemandangan menarik di tengah kehidupan urban yang tengah eksis di Bandung.

Yulius Dwi Ariyanto (32), seorang pria Bandung yang sempat kerap menggunakan pangsi dalam kehidupan sehari-hari, misalnya. Pilihannya untuk mengenakan pangsi pada mulanya didasari oleh keinginan untuk ngamumule budaya Sunda.

“Mending mulai aja. Daripada keburu dipakai sama kepentingan-kepentingan lain.”

— Yulius Dwi Ariyanto

Atau juga De Vidya (36) yang juga menggunakan pakaian ala Sunda, meskipun tidak sering-sering amat. “Urang beuki soalnya modelnya sederhana,” ujarnya. Meskipun begitu, pria berambut gimbal ini pun tak menampik bahwa pilihannya untuk menggunakan pangsi merupakan panggilan batinnya sebagai urang Sunda.

Di satu sisi, merebaknya fesyen Sunda sampai ke tubuh generasi muda ini menjadi kabar baik. Namun di sela-sela kabar baik itu, rupanya kekhawatiran pun tetap hadir. Sebagaimana memandang Pancasila, memandang sebuah budaya pun sejatinya hadir atas pemahaman filosofi yang terkandung di dalamnya. Pemahaman itu jadi kewajiban untuk memaknai apresiasi.

Di zaman kiwari ini, Sunda sebagai dasar kembalinya konsep budaya tengah berkembang di antara jejalan kehidupan urban perkotaan. Di Bandung, misalnya. “Sekarang banyak yang back to nature dengan budaya Sunda dan mulai memahami ternyata budaya Sunda tidak terbatas,” ujar seorang pelaku giat pelestarian budaya Sunda yang kerap dipanggil Kang Onet.

Hadirnya tetekon – aturan atau ketentuan – menjadi satu pengaruh besar dalam tradisi kebudayaan masyarakat Sunda. Walaupun kini manusia hidup dengan gaya modernnya, ternyata tetekon ini masih melekat di masyarakat.

Meskipun begitu, ketika ke-Sunda-an digulirkan pada kehidupan kawula muda, tentu itu harus disiapkan dengan matang. “Untuk menghindari paradigma ke-Sunda-an yang hanya dianggap sebagai budaya ‘black metal’ (merujuk pada tren fesyen Sunda di kalangan komunitas musik underground),” ujar Onet. Harus diupayakan, agar kawula muda tigak menganggap budaya Sunda hanya sekedar tren musiman.

Kini, pelestarian budaya Sunda memang dihadapkan pada pembentukan dua sisi kutub yang saling bertolak belakang dalam pemaknaannya. Di satu sisi, pelestarian ini berujar gembira karena budaya Sunda mulai dikenal dan semakin jadi identitas. Tapi, menimbulkan dilema juga ketika di sisi lain, budaya Sunda itu hanya dianggap urusan gaya hidup belaka. ”Sisi ini yang rada riskan. Sebab ketika penerjemahan Sunda-nya betul itu tidak jadi masalah, tapi ketika Sundanya hanya menjadi fesyen itu yang agak sedikit kacau,” terang Onet.

“Gopalisme”

Di sudut lainnya, sekumpulan orang berpakaian pangsi Sunda pun kerap muncul dalam diskusi-diskusi publik. Lengkap dengan topi caping dan aksesoris-aksesoris tubuh yang terbuat dari bahan-bahan alam serupa biji-bijian, bebatuan, hingga ranting pohon. Kalau yang ini, mereka mencoba mengadaptasi gaya seorang seniman pahat Bandung yang dikenal dengan nama Abah Gopal. Yang kemudian wabah fesyen eksentrik ini disebut oleh sebagian masyarakat dengan istilah ‘Gopalisme’.

Para pengikut fesyen Sunda di Bandung, selain disebut sebagai pengikut Man Jasad, juga disebut sebagai pengikut Abah Gopal. Abah Gopal seolah menjadi lakon utama fesyen ke-Sunda-an di tengah-tengah masyarakat Bandung zaman kiwari.

abah gopal

Abah Gopal. (Diambil dari fotokita.net)

“Kalau Abah Gopal, saya sudah tahu betul bagaimana pemahamannya terhadap nilai filosofi Sunda tidak perlu diragukan.Tetapi yang menjadi masalah ketika turunannya, maksudnya orang yang mengikuti gaya Abah Gopal itu terkadang tanpa tahu filosofi fesyen Sunda secara utuh, ” papar Onet.

Pasalnya, menurut Onet, gaya ikut-ikutan itu mulai sedikit menyimpang dari penerjemahannya. Misalnya saja penggunaan topi caping atau yang dalam masyarakat Sunda dikenal sebagai ‘cetok’. Lalu ada juga tren menggunakan tengkorak domba yang dijadikan sabuk, lengkap dengan tanduk-tanduknya. “Secara filosofi ini jelas tidak ada di dalam kaidah filosofi hidup orang Sunda,” katanya.

Ibarat anak punk yang mempelajari makna punk melalui dandanan slengean, urakan, tindikan dimana-mana, hingga kaus-kaus berisi teriakan perlawanan. Serupa dengan anak punk, kaum ‘ikut-ikutan’ fesyen Sunda ini pun kiranya perlahan-lahan akan ikut memaknai segala pemaknaan warisan leluhurnya di tatar Sunda.

Tak ada yang salah. Karena apapun, bicara tentang pelestarian budaya, khususnya di Sunda, ujung-ujungnya kita akan bertemu dengan satu frasa : “nu penting ngamumule ti diri sorangan (yang penting menjaga dari diri sendiri)”.

Dipublikasikan juga di : AyoBandung bersama dengan Eneng Reni (18 April 2017)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s