Tujuh Bulan Merindu Jakarta

jakarta

Jakarta dari ketinggian. @ROH Gallery, Lantai 40 Equity Tower, SCBD, Jakarta.

Awiligar, Bandung, 3 September 2017

Mengulang cerita satu masa di Jakarta… Karena rindu.

***

Rawajati, Jakarta, 6 Maret 2015

Matahari mungkin sedang marah. Tak karu-karuan ia pancarkan sinar yang menyengat. Belum lagi keringat yang mengucur lantaran suhu udara berada di atas 33 derajat. Lama-lama lelah juga berkali-kali harus bulak balik mengelap leher yang basah. Ditambah macet dan beberapa ruas jalan yang ditutup – yang membuat kami harus melalui jalan yang lebih jauh. Aku, perempuan di sebelahku, lelaki di depanku, dan perempuan juga laki-laki yang duduk tidak manis di bus itu mungkin mendumel dalam hati. “Ah, Jakarta”. Continue reading

Advertisements

UN(TALK) : Mencari Kekasih

untalk

Halo! Bisa aku bicara dengan Siapa?

Aku mau bertanya kepada Siapa, kekasihku dimana?

Sebentar saja aku ingin berbicara dengan Siapa.

Halo.. Halo.. Tolong cepat panggilkan Siapa. Jangan diam terus. Koinku sudah mau habis.

Tolonglah.. Aku hanya ingin Siapa mengatakan padaku dimana kekasihku saat ini.

Ayolah, koinku sudah mau habis.

Siapa kekasihku dimana?

Tiga Hari (Tidak) Untuk Selamanya. Kapan Kembali ke Ambarawa?

photo0758

Matahari akan selalu terbit dari timur. Jika tidak, berakhirlah sudah dunia. Untungnya, letak Stasiun Poncol, Semarang tepat menghadap ke bagian timur. Alhasil, seturunnya kami dari kereta Tawang Jaya – kereta yang menculik kami dari Jakarta – semburat sinar kekuningan matahari menyapa. Membuat mata yang sebelumnya melayu mendadak mekar. Belum lagi, tembang “Gambang Semarang” yang sebelumnya bergema di dalam kereta setibanya di Stasiun Poncol.

Ah.. Awalan yang manis untuk mengawali kisah tiga hari road trip kecil mengelilingi kawasan USA (Ungaran, Salatiga dan Ambarawa) di medio 2016 lalu. Continue reading

Ode untuk Kata

images (2)

Dia itu gadis binal. Ia cerdik untuk berintrik. Tatapan matanya terlalu tajam untuk dipandang dalam-dalam. Seringkali ia mengedipkan matanya, isyarat sebuah ajakan bermain.

Kamu tahu? Pelan-pelan ia sudah mengincarmu sejak vagina Ibumu belum mau mengeluarkanmu. Lantas, setelah kamu keluar dari dalam tubuh Ibumu, ia akan memaksamu untuk memahaminya. Katanya, ia adalah barang terpenting dalam hidupmu. Lalu dengan terbata-bata kamu pun perlahan memahaminya.

Ia akan terus tumbuh di dalam tubuhmu. Menjadi seorang gadis binal dengan peluru-peluru yang ia kumpulkan semasa hidupmu. Ia akan menjadi kekasihmu. Tanpanya, kamu kaku.

Berhati-hatilah dengannya. Ia adalah virus yang suatu waktu bisa saja membekukan darahmu. Membuatmu kejang-kejang. Membuatmu sesak nafas. Membuatmu rabun. Membuatmu kencing darah. Membuatmu disleksia.

Karea ia akan senantiasa membiarkan dirinya keluar dari mulutmu kapanpun kamu mau. Ketika kamu marah. Ketika kamu bersedih. Ketika kamu mabuk.

Dan terkadang, ia akan memintamu bertanggungjawab karena telah mengeluarkannya dari mulutmu. Ia adalah kekasih terbaik yang senantiasa menuntut.

Kata, kamu adalah cintaku. Tapi juga sekaligus musuhku.

Damn you, words!

Mengenang Sitor Lewat Pasar Senen

SITOR

Ke mana kawan semua/ Supir, tukang delman/ Teman berdampingan/ Kita semua bersenda/ Menampung senyuman/ Si Kebaya Merah/ Dari kepulan asap merekah/ Hai Tukang Becak/ Bilang padaku/ Dewiku/ Ke mana kau bawa 

(Dari puisi Pasar Senen, Sitor Situmorang)

Malam itu, kursi-kursi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki penuh terisi. Ruangan sedikit sesak. Dari pintu masuk saja, orang-orang sudah berdiri, beradaptasi dan ‘bertahan hidup’ dengan mengisi area-area pinggir ruang yang tidak berkursi. Riuh rendah. Lalu, di atas panggung, muncul tiga orang dengan masing-masing menenteng sebuah kursi lipat. ”Awas copet! …Kopi! Kopi! Kopi! …Mesin tik bekas! …Mari, Mas, monggo… kehangatan,” kata satu dari tiga orang itu setengah berteriak. Continue reading

Tanah Merah Padusi

IMG_3493
”Semak belukar memerah, lalu musnah.” Begitu ucap Laksmi Notokusumo di antara sorot sinar lampu kemerahan yang mewarnai Hutan Kota Sangga Buana, Kali Pesanggrahan, Jakarta. Ia bersimpuh di antara empat pemusik yang tergeletak tanpa lupa meniup serunai, dijeridu (didgeridoo, alat musik tradisional Suku Aborigin), pupuik, dan saluang. Ia merintih menyesali rimbun kampung halamannya yang kini musnah rata dengan tanah.
Sepenggal adegan monolog itu jadi bagian dari pertunjukan berjudul “Tanah Merah”. Karya tersebut merupakan bagian dari presentasi besar berjudul Phase karya koreografer Jefri Andi Usman, yang dibawakan pada Sabtu, 23 April lalu di Hutan Kota Sangga Buana Kali Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Continue reading