Tergoda Pesona Kampung Batuloceng

batuloceng_1

Foto: Irfansyah

Lokasinya tak jauh dari Kota Bandung. Hanya berjarak sekitar 18 kilometer dari kawasan Dago. Tapi, Kampung Batuloceng bisa jadi pelepas kebosanan rutinitas perkotaan.

Kami—saya dan beberapa teman–berkunjung ke kampung yang berada di Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat itu, pada medio Mei lalu. Tak ada hiruk pikuk perkotaan atau suara bising knalpot yang menyambut kami. Hanya semangkuk mi bakso alakadarnya yang disantap di tengah semilir angin dataran tinggi dan ditemani celotehan kecil warga tentang kampungnya.

Batuloceng adalah sebuah kampung wisata di sisi barat Bandung. Berada di antara Gunung Bukit Tunggul dan Gunung Palasari, pelbagai potensi wisata Batuloceng mengajakmu untuk bertandang. Mulai dari wisata alam, edukasi, hingga sejarah terkumpul di kampung yang berada di daerah aliran hulu Sungai Cikampundung ini. Continue reading →

Advertisements

Jakarta dari Bangku Kopaja

2018-07-29-02-25-30-2.jpg

“Kita ke sana naik apa?” tanya saya. Si kawan–sebut saja Pigi–menjawab singkat, “Kopaja aja.” Saya jelas mengangguk. Maklum, satu tahun tak bersua dengan kopaja, rindu juga rasanya.

Kami melanjutkan perjalanan, berjalan sekitar 100 meter menuju jembatan penyeberangan orang Duren Tiga. Kami menaiki dan menuruni tangga jembatan. Sesampainya di seberang jalan, Kopaja 57–yang seharusnya kami naiki–melintas secepat kilat di jalur yang tak semestinya. Bus putih-hijau itu melintas di jalur busway. Jelas kami tak bisa menyetopnya. “Kenapa, sih, mereka (kopaja) seneng banget ngelewatin jalur busway!” Begitu Pigi menggerutu kesal. Itu pemandangan lumrah di Jakarta, kota dengan seribu kemungkinan. Bus serupa kopaja saja sangat mungkin melintas di jalur busway, menepis harapan para pengguna bus (yang katanya) anti-macet dan ber-AC itu untuk tiba cepat di tujuan.

Kami kesal, tapi juga pasrah. Sudahlah, tunggu saja kopaja berikutnya yang lewat. Continue reading →

Tujuh Bulan Merindu Jakarta

jakarta

Jakarta dari ketinggian. @ROH Gallery, Lantai 40 Equity Tower, SCBD, Jakarta.

Awiligar, Bandung, 3 September 2017

Mengulang cerita satu masa di Jakarta… Karena rindu.

***

Rawajati, Jakarta, 6 Maret 2015

Matahari mungkin sedang marah. Tak karu-karuan ia pancarkan sinar yang menyengat. Belum lagi keringat yang mengucur lantaran suhu udara berada di atas 33 derajat. Lama-lama lelah juga berkali-kali harus bulak balik mengelap leher yang basah. Ditambah macet dan beberapa ruas jalan yang ditutup – yang membuat kami harus melalui jalan yang lebih jauh. Aku, perempuan di sebelahku, lelaki di depanku, dan perempuan juga laki-laki yang duduk tidak manis di bus itu mungkin mendumel dalam hati. “Ah, Jakarta”. Continue reading →

Tiga Hari (Tidak) Untuk Selamanya. Kapan Kembali ke Ambarawa?

photo0758

Matahari akan selalu terbit dari timur. Jika tidak, berakhirlah sudah dunia. Untungnya, letak Stasiun Poncol, Semarang tepat menghadap ke bagian timur. Alhasil, seturunnya kami dari kereta Tawang Jaya – kereta yang menculik kami dari Jakarta – semburat sinar kekuningan matahari menyapa. Membuat mata yang sebelumnya melayu mendadak mekar. Belum lagi, tembang “Gambang Semarang” yang sebelumnya bergema di dalam kereta setibanya di Stasiun Poncol.

Ah.. Awalan yang manis untuk mengawali kisah tiga hari road trip kecil mengelilingi kawasan USA (Ungaran, Salatiga dan Ambarawa) di medio 2016 lalu. Continue reading →

Ode untuk Kata

images (2)

Dia itu gadis binal. Ia cerdik untuk berintrik. Tatapan matanya terlalu tajam untuk dipandang dalam-dalam. Seringkali ia mengedipkan matanya, isyarat sebuah ajakan bermain.

Kamu tahu? Pelan-pelan ia sudah mengincarmu sejak vagina Ibumu belum mau mengeluarkanmu. Lantas, setelah kamu keluar dari dalam tubuh Ibumu, ia akan memaksamu untuk memahaminya. Katanya, ia adalah barang terpenting dalam hidupmu. Lalu dengan terbata-bata kamu pun perlahan memahaminya.

Ia akan terus tumbuh di dalam tubuhmu. Menjadi seorang gadis binal dengan peluru-peluru yang ia kumpulkan semasa hidupmu. Ia akan menjadi kekasihmu. Tanpanya, kamu kaku.

Berhati-hatilah dengannya. Ia adalah virus yang suatu waktu bisa saja membekukan darahmu. Membuatmu kejang-kejang. Membuatmu sesak nafas. Membuatmu rabun. Membuatmu kencing darah. Membuatmu disleksia.

Karea ia akan senantiasa membiarkan dirinya keluar dari mulutmu kapanpun kamu mau. Ketika kamu marah. Ketika kamu bersedih. Ketika kamu mabuk.

Dan terkadang, ia akan memintamu bertanggungjawab karena telah mengeluarkannya dari mulutmu. Ia adalah kekasih terbaik yang senantiasa menuntut.

Kata, kamu adalah cintaku. Tapi juga sekaligus musuhku.

Damn you, words!

Mengenang Sitor Lewat Pasar Senen

SITOR

Ke mana kawan semua/ Supir, tukang delman/ Teman berdampingan/ Kita semua bersenda/ Menampung senyuman/ Si Kebaya Merah/ Dari kepulan asap merekah/ Hai Tukang Becak/ Bilang padaku/ Dewiku/ Ke mana kau bawa 

(Dari puisi Pasar Senen, Sitor Situmorang)

Malam itu, kursi-kursi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki penuh terisi. Ruangan sedikit sesak. Dari pintu masuk saja, orang-orang sudah berdiri, beradaptasi dan ‘bertahan hidup’ dengan mengisi area-area pinggir ruang yang tidak berkursi. Riuh rendah. Lalu, di atas panggung, muncul tiga orang dengan masing-masing menenteng sebuah kursi lipat. ”Awas copet! …Kopi! Kopi! Kopi! …Mesin tik bekas! …Mari, Mas, monggo… kehangatan,” kata satu dari tiga orang itu setengah berteriak. Continue reading →