Ode untuk Kata

Standard

images (2)

Dia itu gadis binal. Ia cerdik untuk berintrik. Tatapan matanya terlalu tajam untuk dipandang dalam-dalam. Seringkali ia mengedipkan matanya, isyarat sebuah ajakan bermain.

Kamu tahu? Pelan-pelan ia sudah mengincarmu sejak vagina Ibumu belum mau mengeluarkanmu. Lantas, setelah kamu keluar dari dalam tubuh Ibumu, ia akan memaksamu untuk memahaminya. Katanya, ia adalah barang terpenting dalam hidupmu. Lalu dengan terbata-bata kamu pun perlahan memahaminya.

Ia akan terus tumbuh di dalam tubuhmu. Menjadi seorang gadis binal dengan peluru-peluru yang ia kumpulkan semasa hidupmu. Ia akan menjadi kekasihmu. Tanpanya, kamu kaku.

Berhati-hatilah dengannya. Ia adalah virus yang suatu waktu bisa saja membekukan darahmu. Membuatmu kejang-kejang. Membuatmu sesak nafas. Membuatmu rabun. Membuatmu kencing darah. Membuatmu disleksia.

Karea ia akan senantiasa membiarkan dirinya keluar dari mulutmu kapanpun kamu mau. Ketika kamu marah. Ketika kamu bersedih. Ketika kamu mabuk.

Dan terkadang, ia akan memintamu bertanggungjawab karena telah mengeluarkannya dari mulutmu. Ia adalah kekasih terbaik yang senantiasa menuntut.

Kata, kamu adalah cintaku. Tapi juga sekaligus musuhku.

Damn you, words!

Mengenang Sitor Lewat Pasar Senen

Standard

SITOR

Ke mana kawan semua/ Supir, tukang delman/ Teman berdampingan/ Kita semua bersenda/ Menampung senyuman/ Si Kebaya Merah/ Dari kepulan asap merekah/ Hai Tukang Becak/ Bilang padaku/ Dewiku/ Ke mana kau bawa 

(Dari puisi Pasar Senen, Sitor Situmorang)

Malam itu, kursi-kursi Teater Kecil Taman Ismail Marzuki penuh terisi. Ruangan sedikit sesak. Dari pintu masuk saja, orang-orang sudah berdiri, beradaptasi dan ‘bertahan hidup’ dengan mengisi area-area pinggir ruang yang tidak berkursi. Riuh rendah. Lalu, di atas panggung, muncul tiga orang dengan masing-masing menenteng sebuah kursi lipat. ”Awas copet! …Kopi! Kopi! Kopi! …Mesin tik bekas! …Mari, Mas, monggo… kehangatan,” kata satu dari tiga orang itu setengah berteriak. Continue reading

Tanah Merah Padusi

Standard
IMG_3493
”Semak belukar memerah, lalu musnah.” Begitu ucap Laksmi Notokusumo di antara sorot sinar lampu kemerahan yang mewarnai Hutan Kota Sangga Buana, Kali Pesanggrahan, Jakarta. Ia bersimpuh di antara empat pemusik yang tergeletak tanpa lupa meniup serunai, dijeridu (didgeridoo, alat musik tradisional Suku Aborigin), pupuik, dan saluang. Ia merintih menyesali rimbun kampung halamannya yang kini musnah rata dengan tanah.
Sepenggal adegan monolog itu jadi bagian dari pertunjukan berjudul “Tanah Merah”. Karya tersebut merupakan bagian dari presentasi besar berjudul Phase karya koreografer Jefri Andi Usman, yang dibawakan pada Sabtu, 23 April lalu di Hutan Kota Sangga Buana Kali Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Continue reading

Instalasi Renik dalam Dunia Terhah

Standard
terhah

Karya “Lartucira” garapan Syaiful Garibaldi dalam pameran tunggalnya, QUIESCENT di ROH Gallery, Jakarta, sekitar 2016. (Diambil dari : syaifulgaribaldi.com)

Perkenalkan, ini adalah Dunia Terhah. Sebuah dunia baru yang ada di Planet Bumi. Dunia imajiner tanpa batas yang hadir dengan liar dan tumbuh tak terduga. Dunia yang asyik sendiri dengan eksperimen-eksperimennya yang absurd. Dunia ini bahkan terkadang kasat mata, tapi sebenarnya eksis. Tapi ini bukan khayalan. Ini adalah yang nyata.

“Cgarmnuh homma nossolka aarm tos homma ujmiok bas nosneroah klimuh tos homma porculen,nossolre olarium terhah, atoah tos xem osmun (birbir epoksorban) solka. Porculen sorban uwew katoa manoaki, lowara hiu jiro laeoleou piang gorgor she. Yepii.”

— Seseorang yang Bukan Alien

Jangan takut, paragraf di atas bukan lontaran yang keluar dari mulut alien yang akan menginvasi bumi. Itu adalah lontaran yang keluar dari mulut manusia – dengan menggunakan bahasa Terhah – yang tidak takut untuk meyakinkan apa yang telah dipercayainya dan mencoba merekam penuh semua ide yang ada di sana, di dalam setiap kehidupan. Continue reading

SIMULAKRA : Realita Maya dalam Dunia Kontemporer

Standard
SIMULAKRA

Cuplikan pementasan tari SIMULAKRA di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, sekitar 2015. (Diambil dari : youtube.com)

Konon, dewasa ini kita dihadapi dalam situasi absurd. Ruang dan waktu telah berpisah. Majunya peradaban membuat ruang dan waktu dinisbikan. Yang muncul kini adalah ruang yang tanpa batas. Teknologi kian menghadirkan ‘manusia-manusia hantu’, yang hadir tapi sesungguhnya absen. Seperti kejadian seorang perempuan berbaju merah (Mila Rosinta) di Jakarta yang berusaha memeluk sang kekasih (I Wayan Adi Gunarta) di Denpasar, Bali.

Pelan-pelan ia mendekat, dicobanya diraih tangan lelaki pujaan yang mengenakan udeng Bali itu. Kedua telapak tangan itu tampak saling bersentuhan. Tapi apa lacur, ketika ia mencoba untuk memeluk sang kekasih, nyatanya yang dipeluk hanyalah kenyataan akan sebuah ketiadaan. Continue reading

Dari Fahri, Kita Perlu Tahu tentang Penyakit Si Tulang Rapuh

Standard
osteogenesis

Potret X-Ray penderita Osteogenesis Imperfecta atau penyakit tulang rapuh. (Diambil dari : physio-pedia.com)

Jika saja kabar tentang Muhammad Fahri Asidiq tidak ramai diberitakan, mungkin saja kita tak pernah tahu tentang penyakit yang disebut sebagai kelainan tulang rapuh. Tak ubahnya kaca, tulang penderitanya tak pernah lepas dari kata patah.

Dengan baju koko dan celana hitamnya, bocah kecil itu berbaring di samping Ibunya. Pandangan matanya kosong. Ia lebih banyak diam. Mungkin ia bingung karena mendadak banyak orang di sekitarnya. Bermata iba dengan turut mengucap keprihatinan.

Kaki kirinya tipis setipis lempeng. Matanya bulat, percis mata sang Ibu, Sri Astati Nursani (32). Badannya yang kecil tak mengisyaratkan usianya yang tengah menginjak sebelas tahun. Bagaimana tidak? Sejak usianya baru menginjak lima tahun, bocah yang akrab disapa Fahri ini kerap mengalami patah tulang. Kini, enam tahun sudah berjalan, bahkan kondisi ini sampai membuatnya tak bisa berdiri. Continue reading